- OJK bersama SRO seperti Bursa Efek Indonesia akan melakukan komunikasi langsung dengan MSCI untuk membahas reformasi pasar modal.
- Reformasi mencakup transparansi kepemilikan saham, penguatan free float, serta sistem peringatan dini atas kepemilikan saham terkonsentrasi.
- Langkah ini bertujuan meningkatkan kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan jadwal pertemuan dengan lembaga pemeringkat indeks global, MSCI. Para pejabat OJK akan mendatangi langsung kantor MSCI untuk membicarakan reformasi pasar modal RI.
"Di minggu depan sudah ada teman-teman SRO tapi kalau saya kemungkinan di minggu ketiga bahkan ada kemungkinan kita akan secara khusus mendatangi mereka," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzisaat ditemui di Gedung BEI, yang ditulis Jumat (3/4/2026).
Ia melanjutkan, OJK menginisiasi pertemuan dengan pimpinan MSCI pada minggu ketiga April guna membahas lebih lanjut rampungnya empat inisiatif strategis reformasi pasar modal RI.
Sementara, Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri atas Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) juga dijadwalkan melakukan komunikasi dengan MSCI dalam waktu dekat.
"Intinya kita yang akan berinisiatif meminta waktu sampai ke tingkat pimpinannya," imbuhnya.
Sementara itu, pertemuan lanjutan dengan MSCI mengenai empat inisiatif strategis utama sebagai bagian dari reformasi pasar modal nasional, yakni pertama, transparansi kepemilikan saham melalui publikasi data pemegang saham di atas 1 persen untuk seluruh emiten.
Data yang bersumber dari KSEI tersebut diperbarui setiap akhir bulan dan dipublikasikan pada awal bulan berikutnya.
Ketiga, penguatan kebijakan free float, termasuk penyesuaian definisi yang mengacu pada praktik global serta peningkatan batas minimal saham beredar di publik.
Keempat, penerapan mekanisme high shareholding concentration yang memberikan informasi tambahan mengenai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi sebagai sistem peringatan dini bagi investor.
Baca Juga: Target IPO 2026 Tak Berubah Meski Awal Tahun Sepi di Pasar Modal
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kemnaker Klaim Belum Ada Laporan PHK di TikTok Tokopedia
-
Bulog Dukung Gerakan Tanam Padi Serentak di Kawasan Cetak Sawah Merauke
-
BULOG Tindak Lanjuti Laporan Warga di Karawang, Perkuat Pengendalian Hama Gudang
-
Prambanan Jazz Festival Kembali Hadir, Pengunjung Bisa Nikmati Berbagai Promo lewat BRImo
-
Ekonom CORE Minta Danantara Buka Laporan Keuangan 2025, Buktikan Diri SWF Global
-
BRI Tegaskan Zero Tolerance terhadap Fraud, Setiap Indikasi Korupsi Dilaporkan ke APH
-
Legalisasi Sumur Minyak Rakyat Dinilai Jadi Titik Balik Industri Migas
-
Ekonomi Jakarta Melaju 5,59 Persen, Ini Strategi Pramono Menuju 50 Kota Global
-
Bulog Tindak Lanjuti Laporan Warga Sekitar Gudang, Pastikan Kenyamanan Lingkungan Tetap Terjaga
-
Kabar Tokopedia PHK Ribuan Karyawan, GOTO Bilang Begini