Pemerintah melalui Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi berencana membangun pembangkit listrik baru sebesar 35 ribu megawatt (mw) guna memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. Untuk itu, pemerintah akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir yang mampu menghasilkan 1000 mw. Rencananya akan dibangun di Bangka-Belitung.
Namun, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta kepada pemerintah untuk tidak terburu-buru membangun PLTN. Pasalnya masih banyak hal yang harus diperhatikan efek dari pembangunan tersebut.
Dalam seminar yang bertajuk Menentukan Arah Kebijakan Energi Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2015), Jusuf Kalla mengungkapkan kekurangan dan kelebihan jika Indonesia membangun PLTN.
JK mengatakan untuk menggunakan PLTN harus ada berbagai pertimbangan, yaitu soal prinsip kehati-hatian karena sumber energi ini berisiko tinggi terhadap kebocoran reaktor yang berimbas pada lingkungan dan kesehatan manusia.
"Apakah faktor ini sudah dipelajari, sudah dipertimbangkan? Apa hasilnya. Karena kalau bicara soal PLTN ini tidak mudah memerlukan tingkat kehati-hatian yang tinggi dari pembangunannya dan pelaksanaan produksinya, " katanya.
JK menyontohkan negara Jepang yang notabene banyak memakai PLTN untuk membantu suplai listrik mereka. Jepang juga pernah mengalami soal tak mudahnya mengelola PLTN apalagi dari risiko gempa.
"Nuklir, Jepang sudah turunkan karena Fukushima. AS, Prancis, Jerman jalan terus kembangkan nuklir, tapi kalau di Jawa masih banyak pilihan energi," katanya.
Selain pertimbangan keselamatan, juga soal pertimbangan lokasi. JK mengatakan di Bangka-Belitung, Kalimantan memang banyak sumber energi untuk nuklir namun kalau dilihat dari segi kebutuhannya cenderung sedikit, sedangkan di Jawa lebih banyak butuh listrik.
"Kita sembrono, nuklir itu besar 1.000 MW, tentu yang cocok di Jawa karena kebutuhannya tinggi, Belitung bisa tapi kebutuhannya kecil, mau bawa ke Jawa nggak bisa, di Kalimantan nggak ada sumber nuklirnya," katanya.
JK meminta kepada pemerintah daerah untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Studi kelayakannya harus jelas dan apakah memiliki efek yang membahayakan masyarakat atau tidak.
"Ngapain sampai bangun nuklir? energi lain aja masih banyak yang belum dimanfaatkan. Ini harus kita pikirkan betul-betul," kata dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
Pilihan
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
Terkini
-
Harga Minyak Brent Melonjak 10 Persen, Menuju USD100 Akibat Perang Iran
-
IHSG Bisa Loyo Perdagangan Besok, Ini Saham-saham yang Bisa Dibidik
-
Purbaya Turun Tangan Selesaikan Proyek Jumbo Gas Abadi Masela
-
Transformasi Gaya Hidup Pintar, Produk Smart Home Makin Canggih Berkat AI
-
Kemenkeu Kantongi Rp 14,15 Triliun dari Penunggak Pajak Jumbo
-
Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Tuntutan Buruh Minta THR Bebas Pajak
-
Klarifikasi DPR soal Polemik MBG Sedot Anggaran Pendidikan
-
BI Ungkap Banyak Orang dan Korporasi Malas Ajukan Kredit Bank
-
Ruang Udara Timur Tengah Ditutup, Gimana Nasib Penerbangan Umrah?
-
Bank Mega Syariah Gaet DPK Lewat Tabungan Kurban