Suara.com - Kadin Indonesia meyakini nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Afrika bisa menembus 20 miliar dolar AS per tahun dengan menggencarkan pembukaan pasar baru di kawasan itu.
"Dalam tiga tahun ke depan nilai perdagangan Indonesia ke Afrika bisa melonjak hingga 80 persen, dari saat ini hanya sekitar 10,7 miliar dolar AS, dengan catatan pengusaha Indonesia harus gencar membuka pasar barui di Afrika," kata Ketua Pelaksana Asian Africa Business Summit (AABS) 2015 Noke Kiroyan di sela penyelenggaraan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, yang juga Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Asosiasi ini, nilai perdagangan Indonesia dengan Afrika tersebut lebih kecil dibanding dengan perdagangan China-Afrika yang mencapai 200 miliar dolar AS dan India-Afrika 70 miliar dolar AS.
Untuk itu, ujar Noke, perdagangan investasi perlu diakselerasi agar menjadi pasar yang menjanjikan jika digarap secara optimal.
Ia menjelaskan, saat ini di kawasan Benua Hitam tersebut baru sedikit negara yang cukup potensial untuk dijadikan lahan investasi oleh pengusaha yaitu Afrika Selatan dan Nigeria.
Pendapatan per kapita Afrika Selatan tertinggi yang mencapai 6.500 dolar dolar per tahun per penduduk, sedangkan Nigeria dengan jumlah penduduk terbesar mencapai 3.500 dolar AS per tahun.
Untuk itu, ujar Noke, perlu mendorong bagaimana volume perdagangan Indonesia ke Afrika lebih meningkat.
"Kadin bisa masuk ke sektor-sektor industri strategis, manufaktur, perkebunan, dan infrastruktur," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, pasar Afrika menjadi daya tarik tersendiri karena potensi yang ada masih bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi terutama terkait dengan kemitraan Asia-Afrika.
"Afrika memiliki produk-produk pertanian seperti buah-buahan, sayuran, daging dan ternak yang bisa dimasuki pengusaha Indonesia untuk pengembangan investasi. Sebaliknya Indonesia dengan produk-produk elektronik, mesin dan mobil dapat diekspor ke negeri itu," ujar Suryo.
Menurutnya, kemitraan dengan Asia-Afrika saat ini memasuki masa yang menarik sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kedua benua, sehingga membuka peluang kerjasama ekonomi dan bisnis.
Bobot ekonomi kedua kawasan ini tersebut meliputi 75,3 persen penduduk dunia dan 28,5 persen Gross Domestic Bruto (GDB) dunia.
"Masih relatif kecilnya kontribusi GDB ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi-potensi ekonomi yang belum tergali, terutama di sebagian besar negara-negara di Afrika," ujarnya.
Meski demikian, Suryo menilai aspek stabilitas keamanan dan daya beli masyarakat Afrika masih menjadi perhatian utama eksportir Indonesia yang menjajaki hubungan dagang dengan Afrika.
"Potensinya besar, kita harus gencar ekspansi bisnis ke Afrika. Kita jangan ketinggalan dengan negara-negara tetangga dan regional yang sudah menyerbu pasar Afrika," tegas Suryo.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Shell, BP dan Vivo Diminta Bernegosiasi dengan Pertamina untuk Beli Solar
-
ESDM Beberkan Sosok Perusahaan Pemenang Tender Pembangunan WKP Telaga Ranu
-
CEO Danantara: 1.320 Huntara Bakal Diserahkan ke Korban Banjir Sumatera Besok
-
Perusahaan Dompet Digital Mulai Sasar Segmen Olah Raga
-
Pemerintah Buka Seluasnya Akses Pasar Ekspor untuk Redam Gejolak Ekonomi Global
-
Menko Airlangga Sebut Presiden Lebih Pilih Terapkan B40 Tahun Ini
-
Danamon Bakal Kembangkan Solusi Pembiayaan Kredit Karbon Berbasis Alam
-
Penerapan B50 Batal untuk 2026, Masih Terus Dikaji
-
Purbaya Mau Tambah Satu Lapisan Tarif Cukai biar Rokok Ilegal Jadi Legal
-
Fakta-fakta 'Tambang Meledak' di Bogor, ANTAM dan Kepolisian Beri Update Terkini