Bisnis / Makro
Selasa, 05 Mei 2015 | 19:21 WIB
Pedagang Kaki Lima (PKL) kembali memenuhi badan jalan di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (1/4). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Badan Pusat Statistik mencatat pada triwulan I-2015 terjadi perlambatan ekonomi Indonesia. Penyebabnya karena pendapatan masyarakat menurun yang berdampak pada daya beli yang juga ikut turun. Dampak perlambatan ekonomi nampaknya sudah terlihat sejak akhir 2014. Salah satunya yang terjadi di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, para pedagang di Pasar Blok B Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengeluhkan penurunan penjualan pada Selasa (5/5/2015), yang bertepatan dengan laporan BPS yang mencatat laju pertumbuhan ekonomi melambat.

Sekitar pukul 13.00 WIB, suara.com mencoba menyambangi pusat perbelanjaan Blok B Tanah Abang. Dari pantauan suara.com beberapa toko memilih untuk tutup lebih awal karena aktifitas belanja pengunjung yang menurun.

Boy (25), salah seorang pedagang celana jeans di lantai tiga, mengatakan beberapa bulan terakhir Pasar Tanah Abang yang biasanya ramai dikunjungi sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, kini sepi pengunjung.

“Biasanya kan jam 11 sampai jam dua siang itu jam-jamnya ramai. Tapi beberapa bulan terakhir pengunjung lagi sepi mbak. Terus pengunjung yang biasanya bisa beli borongan sekarang juga belinya semakin sedikit,” kata Boy saat dijumpai suara.com di tokonya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wulan (32), pemilik toko pakaian di Pasar Tanah Abang. Menurutnya, tiga bulan menjelang puasa, para calon pembeli dari luar kota sudah mulai memenuhi pasar Tanah Abang. Namun, saat ini kondisinya sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya kalau menjelang puasa ini yang dari daerah udah pada datang, buat ngeborong. Tapi enggak tahu kenapa sampai sekarang masih sepi gini. Karena sepi para pedagang pada tutup lebih awal. Karena percuma juga buka, malah buang biaya listrik,” katanya.

Wulan mengaku sejak akhir 2014, pendapatan dari tokonya menurun akibat sepinya pengunjung.

“Biasanya bisa sampai Rp25 juta, sekarang mah cuma Rp5 juta mbak. Saya pusing ini gimana ya. Ya mau gimana lagi mbak, walau biasanya jam segini banyak pengunjung, tapi jam dua aja di sini udah kayak rumah setan, sepi banget. Tapi kita akan tetep jualan,” katanya.

Sepinya pasar dari para pengunjung mempengaruhi omset yang hanya mencapai Rp5-Rp10 juta per hari dari omset penjualan normal yang biasanya mencapai Rp25-Rp50 juta per hari.

Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat perdagangan pakaian dan tekstil di Jakarta Pusat masih menjadi pilihan utama bagi para pembeli yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa dari jenis pakaian jadi yang masih diincar yaitu celana jeans dan baju gamis.

Jenis celana yang sedang populer saat ini adalah celana jeans jenis street berwarna stone dan blit, baik itu celana pendek maupun celana panjang. Untuk pakaian lelaki tidak terlalu banyak model, seperti baju kaos dan kemeja. Sedangkan untuk pakaian perempuan, baju gamis masih menjadi pilihan sebagian besar pembeli.

Boy dan Wulan berharap pemerintah bisa mengatasi permasalahan yang dialami para pedagang agar tidak terus merugi akibat adanya pelemahan perumbuhan ekonomi belakangan ini.

“Ya semoga pemerintah bisa selesein dah secepatnya. Biar kita yang kecil-kecil gini enggak semakin susah,” kata Wulan.

Load More