Bisnis / Makro
Sabtu, 06 Juni 2015 | 16:01 WIB
Ilustrasi cadangan migas Indonesia. [Antara]

Suara.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi, berpendapat bahwa upaya Indonesia untuk kembali menjadi anggota organisasi negara pengekspor minyak dunia (OPEC) mustahil bisa terwujud.

"Pemerintah sekarang ingin kembali menjadi anggota OPEC. Ini ibarat mimpi di siang bolong. Produksi minyak kita sangat rendah, impornya malah besar," ujar Kurtubi, ketika ditemui di Jakarta, Sabtu (6/6/2015).

Menurut Kurtubi, apabila pemerintah ingin kembali menjadi anggota OPEC, maka harus diawali dengan pembenahan sistem tata kelola migas yang dianggapnya sangat kacau.

Melalui pembenahan tersebut, menurut Kurtubi, maka iklim investasi akan dapat membaik. Itu juga akan berdampak pada peningkatan penemuan cadangan minyak dan gas, sehingga bisa meningkatkan produksi dalam negeri.

"Kalau mau jadi anggota peninjau, ya, tidak masalah. Tapi kita jadi tidak punyak hak suara untuk berbicara. Siapa pun bisa kalau cuma jadi peninjau," tukas legislator dari Fraksi Partai Nasdem tersebut.

Kurtubi menjelaskan, ketika masih menjadi anggota OPEC, produksi minyak Indonesia diketahui sangat tinggi, bahkan mencapai 1,5 juta barel per hari.

"Tapi sekarang 60 persen kebutuhan minyak kita harus impor. Masyarakat harus tahu itu. Sekarang produksinya turun terus karena salah kelola, bukan karena minyak buminya tidak ada," ujarnya menambahkan.

Berdasarkan data yang diketahuinya, Kurtubi memperkirakan bahwa potensi kandungan minyak dan gas di Indonesia mencapai 80 miliar barel, baik yang terletak di laut maupun darat. Oleh karenanya, dia berharap pemerintah meninjau kembali keputusan tersebut, dan memilih melakukan pembenahan sistem tata kelola migas yang dinilai menjadi akar permasalahan industri migas di Indonesia. [Antara]

Load More