Suara.com - Pasar minyak dunia merosot pada Sabtu, 912/9/2015), setelah Goldman Sachs memangkas proyeksi harga untuk tahun depan dalam menghadapi pasokan yang lebih besar daripada perkiraan awal.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 1,29 dolar AS menjadi berakhir di 44,63 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah bertambah hampir dua dolar AS.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober 2015, patokan global untuk minyak, ditutup pada 48,14 per barel di London, turun 75 sen.
Sejak Jumat pekan lalu, kedua kontrak telah kehilangan sekitar tiga persen.
"Masih banyak kebingungan di sini. Kami sudah bolak-balik, dan kami mencoba untuk menemukan nilai wajar," kata Carl Larry dari Frost & Sullivan.
"Untuk setiap laporan yang keluar, setiap prediksi yang datang, kami masih belum keluar dari kisaran ini, antara 40 dolar AS dan 50 dolar AS,” tambahnya.
Goldman Sachs memangkas proyeksi harga 2016 untuk WTI menjadi 45 dolar AS per barel, turun tajam dari perkiraan Mei sebesar 57 dolar AS.
"Pasar minyak bahkan kelebihan pasokan lebih besar dari yang kita duga dan kita sekarang memperkirakan surplus ini bertahan pada 2016, karena pertumbuhan lebih lanjut produksi OPEC, bertahannya pasokan non-OPEC dan pelambatan pertumbuhan permintaan, dengan risiko-risiko condong ke permintaan yang lebih lemah akibat pelambatan Tiongkok," katanya.
Dalam kasus terburuk, bank AS itu memproyeksikan harga minyak bisa jatuh mendekati 20 dolar AS per barel jika kelebihan pasokan melampaui kapasitas logistik dan penyimpanan.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa persediaan minyak di luar OPEC akan turun setengah juta barel per hari pada tahun depan, dengan produsen-produsen minyak serpih AS menyumbang sebesar empat-perlima dari penurunan.
Mendukung pandangan itu, rig minyak Baker Hughes AS cenderung terus menurun pada Jumat. Jumlah rig, ukuran yang diawasi dengan ketat untuk kegiatan pengeboran, jatuh 10 rig menjadi 652 rig, turun 59 persen dari setahun lalu. (AFP/Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
DJP Ungkap Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta di H+1 Lebaran
-
Jelang Deadline, Jumlah Wajib Pajak Lapor SPT Tembus 8,7 Juta
-
Hari Air Sedunia: Ini Sederet Kisah Pertamina dari Ujung Papua hingga Wilayah Bencana
-
Jadwal Operasional BRI Pasca Libur Lebaran 2026
-
Harga Minyak Naik, Prabowo Kebut Proyek PLTS buat Gantikan Tenaga Diesel
-
Seluruh Rest Area di Tol Cipali Akan Berlakukan Sistem Buka Tutup
-
Biang Macet Saat Mudik Terungkap! 21 Ribu Kehabisan Saldo E-Toll
-
Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional