Suara.com - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik, Kamis (15/10/2015) pagi. Data ekonomi AS yang lemah memberikan dukungan terhadap logam mulia.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember naik 14,4 dolar AS, atau 1,24 persen. Menjadi menetap di 1.179,80 dolar AS per ounce.
Emas mendapat dukungan ketika laporan yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel hanya meningkat 0,1 persen pada September. Para analis mencatat bahwa penjualan bensin memimpin pelemahan, karena mereka jatuh 3,2 persen selama September.
Namun ada beberapa indikator bahwa kekuatan konsumen sedang meningkat seperti penjualan kendaraan bermotor naik 1,7 persen pada September. Logam mulia juga diberi dorongan oleh laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen mengalami penurunan 0,5 persen pada September.
Terlepas dari kenyataan bahwa harga energi memimpin pelemahan, jasa-jasa juga melemah, turun 0,4 persen pada September setelah dua bulan naik 0,4 persen. Analis percaya bahwa data dapat menyebabkan pedagang berspekulasi bahwa tekanan deflasi meningkat bukannya menurun.
Pedagang juga akan tetap memantau laporan Indeks Harga Konsumen dari Departemen Tenaga Kerja AS yang akan dirilis Kamis untuk indikasi tentang keadaan inflasi di AS. Federal Reserve AS juga berhati-hati memantau data ekonomi AS terbaru menjelang dua pertemuan terakhirnya tahun ini.
Ketua The Fed Janet Yellen sebelumnya telah mengindikasikan bahwa ia berharap untuk menaikkan suku bunga pada 2015, tetapi dengan data terbaru yang datang lebih buruk dari perkirakan, analis dan pedagang datang ke sebuah konsensus bahwa tingkat suku bunga tidak akan dinaikkan sampai 2016.
Menurut FedWatch CME Group, peluang waktu kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember hanya 27 persen. Analis yakin bahwa jika data ekonomi buruk berlanjut ketika dirilis pada Kamis dan Jumat, dapat mengakibatkan kenaikan suku bunga tertunda.
Perak untuk pengiriman Desember naik 21 sen atau 1,32 persen, menjadi ditutup pada 16,117 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 2,8 dolar AS atau 0,28 persen, menjadi ditutup pada 995,40 dolar AS per ounce. (Antara/Xinhua)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
Terkini
-
Prabowo: Hilirisasi Kunci Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas
-
Sambut Idulfitri, PLN Group Berbagi Santunan untuk Anak Yatim Hingga Santri di Banggai
-
Hadapi Krisis Minyak, Presiden Prabowo Perintahkan Tambah Produksi Batu Bara
-
Semua Kementerian Akan Efisiensi untuk Jaga Defisit Anggaran, Kecuali MBG
-
Awas, Ada Potensi Lonjakan Harga Barang Pokok Sehabis Lebaran
-
Tarif LRT Jabodetabek Cuma Rp1 Selama H1 dan H2 Lebaran 2026
-
Operasional BRI, BNI, Bank Mandiri dan BSI Selama Libur Nyepi dan Idulfitri
-
Setiap Perjuangan Layak Ditemani: Perjalanan Ibu Wulan, Dari Titik Terendah Hingga Memiliki Rumah
-
Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia, Ini 4 Pewaris yang Ditinggalkan
-
Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU Dalam Melayani Pemudik EV