Suara.com -
Seiring dengan berkembangnya produk keuangan, kini berinvestasi tidak hanya bagi mereka yang memiliki dana yang banyak. Kita yang memiliki penghasilan terbatas pun bisa berinvestasi, dengan instrumen reksa dana.
Reksa dana merupakan salah satu produk investasi pasar modal yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk menempatkan dananya. Oleh manajer investasi yang professional, dana masyarakat ini kemudian akan dikelola ke dalam berbagai instrumen investasi seperti saham, obligasi dan doposito.
Dengan dana minimal Rp100 ribu, kita sudah dapat memiliki aset yang berbentuk unit penyertaan reksa dana dalam sebuah pengelolaan berbagai instrumen investasi seperti saham, obligasi, dan deposito. Beragamnya isi (portofolio) dari reksa dana membuat tingkat risiko pun dapat menyebar atau terdiversifikasi.
Mengingat tingkat inflasi tinggi yang terjadi setiap tahunnya, kita sebaiknya mencari tempat alternatif pilihan lain selain di bank untuk menghasilkan imbal hasil yang mampu mengalahkan tingkat inflasi. Kalau tidak, uang yang kita kumpulkan di tabungan saja lama-lama bisa tergerus nilainya karena inflasi tersebut.
Oleh karena itu, berinvestaasi sangat perlu dilakukan agar uang kita dapat berkembang sehingga tetap dapat menjaga kemampuan kita dalam membeli barang di masa depan. Sayangnya, terkadang sebagian besar orang masih menganggap investasi hanya perlu dilakukan jika sudah mapan dan berkecukupan.
Padahal, investasi reksa dana memiliki tiga keunggulan utama. Pertama, investasi ini bisa kita mulai dengan modal yang relatif kecil pada reksa dana. Meski dengan modal yang relatif rendah, bukan berarti investasi reksa dana ini tidak cukup layak untuk dilakukan. Inilah keunggulan kedua yaitu potensi imbal hasil atau keuntungan dari berinvestasi reksa dana pun lebih besar bila dibandingkan hanya menyimpan uang di dalam tabungan.
Keunggulan lainnya adalah, pembelian reksa dana sudah bisa dilakukan dengan mudah secara online layaknya berbelanja melalui media internet, seperti yang tersedia pada Marketplace Investasi Bareksa. Dengan transaksi online ini, kita dapat melakukan jual dan beli reksa dana kapan saja dan dimana saja sesuai dengan kebutuhan kita hanya dengan satu akun saja dan tentunya ini aman serta telah mendapatkan izin dari pihak Otoritas Jasa keuangan (OJK).
Jenis Reksa Dana
Reksa dana terdiri dari beberapa jenis yakni reksa dana dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Berdasarkan risiko dan return (keuntungan), keempat jenis reksa dana tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Reksa dana pasar uang memiliki risiko paling rendah dengan potensi return 5 - 7 persen. Kemudian potensi return dari reksa dana pendapatan tetap sekitar 8 - 12 persen. Sementara reksa dana campuran dan saham berpontensi menghasilkan return sekitar 15 - 20 persen setahun. Tentunya semakin tinggi keuntungan yang diharapkan maka akan semakin besar pula risikonya.
Berinvestasi reksa dana ini dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan keuangan kita. Misalnya saja kita ingin mengumpulkan uang untuk liburan dalam dua tahun ke depan, kita dapat menempatkan uang kita pada reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Kedua jenis itu dipilih untuk jangka pendek karena memiliki fluktuasi pasar yang rendah, sehingga pertumbuhan investasi kita cenderung lebih stabil untuk keperluan waktu dekat.
Sementara apabila kita memiliki tujuan investasi dengan jangka panjang seperti untuk persiapan dana pensiun atau biaya kuliah anak, kita dapat menempatkan uang kita pada reksa dana campuran dan saham. Hal ini dikarenakan kedua jenis reksa dana ini berpotensi dapat manghasilkan return yang tinggi secara jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Meski dalam jangka pendek kedua reksa dana ini juga memiliki risiko tinggi karena pergerakan dari asetnya cukup berfluktuasi.
Dalam berinvestasi, kita perlu memperhatikan tujuan dan profil risiko masing-masing. Hal ini dilakukan agar kita dapat menentukan pilihan jenis reksa dana yang cocok bagi kita sehingga investasi kita pada reksa dana pun berhasil.
| Published by Bareksa.com |
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
AFTECH Rilis Buku Panduan Kolaborasi Pindar-Bank Perluas Akses Kredit
-
WOOK Group Investasi Talenta Digital Lewat Beasiswa
-
Kapitalisasi Pasar Saham RI Kembali Naik Tembus Rp 14.889 triliun
-
BRI Barca Week 2026 Jadi Momentum Peluncuran BRI Debit FC Barcelona
-
DEWA Tuntaskan Buyback Saham Hampir Rp 1 Triliun, Rampung Lebih Awal
-
Pemerintah Kaji Larangan Ekspor Timah Mentah, Bahlil Minta Bank Biayai Hilirisasi
-
Saham MGLV Naik 4.271 Persen, Kini Resmi Dikuasai Raksasa Data Center
-
Profil PT Hillcon Tbk (HILL), Harga Sahamnya Anjlok Parah Usai Gugatan PKPU
-
Harga Emas dan Perak Menguat, Sinyal Penguatan Jangka Panjang?
-
Saham BUMI Diborong Lagi, Target Harganya Bisa Tembus Level Rp500?