Suara.com - Kurs dolar AS menurun terhadap mata uang utama lainnya di perdagangan New York pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena data ekonomi yang keluar dari negara itu lebih buruk dari yang diharapkan.
Indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator penting dari tingkat inflasi, naik 0,1 persen pada Juni, lebih rendah dari konsensus pasar untuk kenaikan 0,2 persen, Departemen Perdagangan melaporkan, Selasa.
Laporan menunjukkan inflasi AS masih di bawah target Federal Reserve sebesar 2,0 persen, dengan indeks PCE inti tahun-ke-tahun tercatat di 1,6 persen pada Juni.
Data ekonomi terbaru yang lemah menambah kekhawatiran investor bahwa bank sentral AS mungkin tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga menekan greenback pada Selasa.
Selain itu, yen Jepang naik hampir 1,6 persen terhadap dolar AS ke tingkat tertinggi tiga minggu, setelah kabinet Jepang menyetujui paket stimulus ekonomi senilai 274 miliar dolar AS pada Selasa untuk mendukung perekonomian Jepang yang lesu.
Para analis mengatakan yen menguat karena langkah-langkah pelonggaran mereka anggap kurang agresif daripada yang diperkirakan.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,73 persen menjadi 95,016 pada akhir perdagangan, tingkat terendah dalam lima minggu.
Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,1232 dolar dari 1,1169 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,3352 dolar dari 1,3193 dolar. Dolar Australia naik ke 0,7610 dolar dari 0,7565 dolar.
Dolar dibeli 100,79 yen Jepang, lebih rendah dari 102,31 yen pada sesi sebelumnya. Dolar merosot ke 0,9636 franc Swiss dari 0,9679 franc Swiss, dan sedikit menurun menjadi 1,3089 dolar Kanada dari 1,3095 dolar Kanada. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Mulai Hari Ini Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Kelas Ekonomi
-
BRILink Agen Mekaar 426 Ribu, BRI Perluas Inklusi hingga Desa
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya Tawarkan Promo Spesial dan Hiburan Musik
-
Hampir Separuh UMKM di Sektor Pangan, Masalah Pasar Masih Jadi Hambatan
-
OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi hingga Juni 2026
-
OJK: Bank Bisa Penuhi Kebutuhan Valas Tanpa Bikin Rupiah Semakin Goyah
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Tembus Rp64.050/Kg, Telur Ayam Nyaris Rp32 Ribu
-
Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM
-
Saham BBCA Anjlok ke Level Era Covid-19, Asing Penyebabnya
-
Pegadaian Cabang Bima Serahkan Bantuan CSR Peralatan Ibadah ke Masjid Al Ijtihad