Bisnis / Ekopol
Rabu, 11 Maret 2026 | 15:45 WIB
Ilustrasi kapal tanker pertamina. [Ist]
Baca 10 detik
  • Sebuah kapal kontainer diserang proyektil di lepas pantai UEA pada Rabu (11/3/2026), memicu peningkatan kewaspadaan maritim.
  • Dua dari empat kapal tanker Pertamina masih tertahan di sekitar Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan regional tersebut.
  • Serangan maritim meningkat sejak Maret 2026; Iran mengklaim kendali atas Selat Hormuz, memicu peringatan militer AS.

Suara.com - Situasi keamanan maritim di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah kapal kontainer dilaporkan terkena hantaman proyektil misterius di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu (11/3/2026).

Insiden ini menambah daftar panjang gangguan pelayaran di wilayah yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia tersebut, menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Lembaga keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mengonfirmasi bahwa nakhoda kapal telah melaporkan kerusakan akibat serangan proyektil tersebut.

Lokasi kejadian tercatat berada sekitar 25 mil laut di sebelah barat laut emirat Ras Al Khaimah. Meski kondisi fisik kapal terdampak, UKMTO memastikan bahwa seluruh awak kapal berada dalam keadaan selamat.

Pihak berwenang segera mengeluarkan imbauan kepada seluruh armada kapal yang melintasi kawasan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi seiring dengan dimulainya proses investigasi.

Kondisi Kapal Tanker Pertamina

Di tengah gejolak tersebut, nasib aset milik Indonesia turut menjadi sorotan. Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa dua dari empat kapal tanker mereka yang sempat terjebak di zona perang telah berhasil keluar dari kawasan Teluk.

Namun, dua kapal tanker berukuran raksasa, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga saat ini dilaporkan masih tertahan di sekitar Selat Hormuz.

Keempat kapal ini sebelumnya ditugaskan mengangkut pasokan minyak mentah untuk menjaga stabilitas kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.

Baca Juga: Eks Jenderal AS Ungkap Bahaya Nyata Ranjau Iran bagi Kapal Tanker di Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan arteri energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Jalur sempit dengan lebar kurang dari 48 kilometer ini menjadi jalur lintas bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG).

Ketegangan di selat ini terus menunjukkan tren mengkhawatirkan:

  • Eskalasi Serangan: Catatan UKMTO dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan sedikitnya 10 kapal tanker telah menjadi sasaran serangan sejak awal Maret 2026.
  • Klaim Kendali: Garda Revolusi Iran secara terbuka menyatakan telah memegang kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut sebagai bagian dari taktik pertahanan mereka.
  • Ancaman Militer: Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras terkait kemungkinan penempatan ranjau laut oleh Iran. Trump menegaskan akan adanya konsekuensi militer yang belum pernah disaksikan sebelumnya jika Teheran memblokir akses jalur tersebut.

Setiap ancaman yang muncul di Selat Hormuz selalu berdampak instan terhadap volatilitas harga komoditas dunia.

Mengingat posisi strategis jalur ini sebagai satu-satunya akses ekspor bagi negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait, gangguan kecil saja dapat memicu kekhawatiran global akan terhentinya pasokan energi.

Harga minyak sempat menyentuh level USD 120 sebelum akhirnya kembali turun di tengah isu pelepasan cadangan G7, hingga kini berada di kisaran USD 84.

Load More