- Zulhas jamin konflik Iran-Israel tak ganggu pangan RI karena minim impor dari Timur Tengah.
- Stok pangan jelang Ramadan dan Lebaran dipastikan aman dengan harga terjangkau.
- Presiden Prabowo percepat target produksi pangan nasional untuk antisipasi gejolak geopolitik.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan bahwa eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, tidak akan mengganggu stabilitas pasokan pangan di Tanah Air.
Zulhas menyatakan, pemerintah telah bergerak cepat membentengi ketahanan pangan nasional dengan memperkuat produksi dalam negeri sebagai langkah antisipasi gejolak geopolitik global.
"Di Timur Tengah, perang Timur Tengah itu soal makanan tidak berdampak kepada kita. Karena kita tidak ada impor apa pun dari Timur Tengah soal makanan. Enggak ada," ujar Zulhas usai menggelar rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (12/3/2026).
Kabar baik ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat akan lonjakan harga pangan menjelang momen krusial Ramadan dan Lebaran. Zulhas memberikan jaminan bahwa stok pangan nasional saat ini berada dalam kondisi surplus dan siap didistribusikan.
"Jadi Lebaran, puasa Lebaran, alhamdulillah stok pangan kita lebih dari cukup. Tersedia, harga terjangkau," tegas Ketua Umum PAN tersebut.
Lebih lanjut, Zulhas mengungkapkan bahwa langkah antisipasi ini merupakan buah dari visi strategis Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Presiden sejak awal sudah memprediksi bahwa situasi geopolitik dunia, termasuk ketegangan Iran-AS-Israel, bisa meledak sewaktu-waktu.
Atas dasar itulah, Pemerintah langsung tancap gas mendorong percepatan peningkatan produksi pangan nasional guna mengurangi ketergantungan pada pasar global yang rentan konflik.
"Ya, sementara perintah Bapak Presiden, produksi kita harus ditingkatkan. Makanya ini kan Bapak Presiden kita ini kita bersyukur ya. Sudah memperkirakan ini akan terjadi," imbuhnya.
Sebagai respons atas situasi dunia yang kian tidak menentu, pemerintah memutuskan untuk memangkas tenggat waktu program produksi pangan nasional. Target-target yang semula dipatok untuk lima tahun ke depan, kini dipaksa maju lebih cepat.
Baca Juga: Ketika Rumah Sakit Jadi Target: Saat Tenaga Medis Harus Adu Mekanik dengan Rudal
"Oleh karena itu, pangan itu kan dari lima tahun, minta maju tiga tahun, minta maju dua tahun, setahun. Alhamdulillah kita sudah terjadi," pungkas Zulhas optimis.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Rhenald Khasali Duga Ada Pihak Luar Recoki Pemilihan Ketua Umum Hipmi
-
Tak Cukup Melek Digital, Gen Z Harus Kuasai AI untuk Investasi Saham
-
Siap-siap! Rokok Ilegal Bakal Merajalela Setelah Kebijakan Kemasan Polos
-
IHSG Sesi I Melonjak 2,34% ke Level 5.881, BBCA Jadi Bintang
-
Pengusaha Logistik Curhat Harga BBM Naik: Tambahan Biaya Makin Menekan
-
Harga Minyak Kembali Meroket! Serangan AS ke Iran Bikin Harga BBM Makin Mahal
-
Efek Domino BBM Naik, Harga Komoditas Pangan Langsung Terbang 10 Persen Lebih
-
BBM Naik-Rupiah Jebol, Warga: Sekarang Belanja Cuma Dapat Sayur dan Bumbu-bumbuan Saja!
-
Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco
-
Pertamax Melonjak, SPBU Swasta Ikut Kerek Naik Harga BBM Hingga Tembus Rp17.000 per Liter