Pemerintah diminta serius untuk menangani mafia beras dengan modus pengoplosan beras subsidi Bulog. Pasalnya, keberadaan mafia beras sangat merugikan masyarakat.
"Presiden Jokowi harus serius memberantas mafia beras. Jangan dibiarkan mereka, atau Jokowi jangan pura-pura tidak tahu, rakyat sangat dirugikan dengan para mafia ini," kata Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi dalam keterangan persnya, Senin (10/10/2016).
Jokowi kata dia, jangan hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, dan melupakan persoalan pangan, khususnya mafia beras.
"Para mafia pengoblos beras subsidi di Cipinang harus diberantas karena berkaitan dengan beras subsidi. Kalau hanya Memperhatikan infrastruktur, berarti Jokowi hanya peduli kepada investor, dan lupa kepada beras subsidi yang harus dilindungi sebagai makanan rakyatnya sendiri," kata Uchok.
Sebelumnya, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menggerebek gudang sindikat mafia beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, pada Kamis (6/110/2016) lalu. Ratusan ton beras yang telah dicampur turut disita dalam penggerebekan itu.
"Beras kurang lebih 200 ton, itu persediaan di gudang dan persediaan di gudang bulog untuk subsidi sekitar 68 ton," kata Direktur Tipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya.
Menurut Dirtipideksus, beras oplosan tersebut, dijual ke pasaran sebagai beras premium.
"Para pelaku menyalahgunakan distribusi cadangan beras pemerintah bersubsidi. Mereka melanggar Permendag Nomor 4 Tahun 2012 tentang penggunaan cadangan beras pemerintah untuk stabilitas harga," kata Agung.
Pasalnya, beras tersebut seharusnya diperuntukkan dalam kegiatan Operasi Pasar. Namun, faktanya, beras tersebut dicampur dengan beras lokal untuk dijual kembali.
Selain itu, beras Bulog Thailand 15 persen yang digunakan untuk campuran tersebut, juga diperoleh para pelaku dari distributor ilegal. Beras Bulog Thailand hanya didistribusikan oleh distributor yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi.
Beras Thailand dengan komposisi 15 persen merupakan beras pecah (broken) yang diimpor pemerintah Indonesia dari negeri gajah putih untuk cadangan beras.
Impor tersebut dilakukan langsung oleh Bulog. Beras itu seharusnya diperuntukkan untuk kegiatan operasi pasar guna menstabilkan harga beras. Sesuai ketentuan, Bulog harus mendistribusikan beras tersebut kepada distributor yang telah ditunjuk pemerintah.
Sementara, Sekjen Pakar Pangan Jackson Kumaat mengatakan Bareskrim Polri harus menuntaskan kasus mafia pengoplosan beras.
"Beras itu buat rakyat miskin, kami mendukung penuh langkah Polri, untuk memberantas mafia beras. Ini beras untuk rakyat miskin, kenapa dijual," kata Jackson.
Dia menyadari sejak dulu barang-barang subsidi pemerintah selalu disalahgunakan. Sebab itu, kasus ini juga menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama dalam menangani kasus mafia beras ini.
"Permasalahan Bulog kita harus sadari. Dari dulu barang subsidi pemerintah semua bermasalah. Subsidi-subsidi ini banyak disalahgunakan, ini jadi PR bersama," katanya.
Berita Terkait
-
Jokowi: Illegal Fishing Kurangi Stok Ikan Dunia 90 Persen
-
Senin Esok, Jokowi Buka Simposium Perikanan di Yogyakarta
-
Jokowi Minta Kualitas Layanan Pendidikan dan Kesehatan Diperbaiki
-
Sabtu Esok, Jokowi akan Resmikan Kawasan Ekonomi Khusus Sorong
-
Presiden Jokowi Soroti Anggaran TVRI 4 Tahun Selalu Disclaimer
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN