Bisnis / Keuangan
Jum'at, 11 November 2016 | 09:13 WIB
Bursa Saham Frankfurt, Jerman. [Antara/Reuters]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kamis (10/11/2016) ditutup naik sebesar 35 poin atau 0,66 persen ke level 5.450 setelah bergerak di antara 5.443-5.482. Sebanyak 228 saham naik, 92 saham turun, 83 saham tidak bergerak. Investor bertransaksi Rp8.099 triliun. Di pasar reg-uler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp701 miliar.

Pasar Amerika ditutup bervariasi di akhir perdagangan usai Donald Trump memenangkan pemilu presiden di AS dan akan mulai menjabat di bulan Januari. Fakta ini ditambah dengan kemenangan partai Republik mempertahankan kendali mayoritas pada House of Representative dan Senat. Menurut S&P, mereka mengasumsikan kekuatan institusional dan neraca AS yang kokoh akan menopang eksekusi kebijakan pemerintahan Trump, meski minimnya pengalaman yang memicu ketidakpastian terhadap proposal kebijakan.

"Dow jones menguat 1,18 persen ke level 18,808. Nasdaq melemah 1,62 persen ke level 4,747 dan S&P menguat 0,20 persen ke level 2,167," kata Direktur PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, dalam keterangan resmi, Jumat (11/11/2016).

Pasar Eropa melemah pada hari Kamis (10/10/2016), setelah sempat menguat di awal perdagangan melanjutkan penguatan pasca kemenangan Donald Trump pada pemilu AS. Namun momentum reli mulai memudar di pertengahan perdagangan. Saham asuransi, perbankan, dan sumber daya alam tetap berada di zona hijau, naik lebih dari 2 persen. Presiden AS terpilih, Donald Trump, saat kampanye berjanji untuk melonggarkan aturan perbankan, yang membuat saham sektor tersebut terus menguat.

"Indeks FTSE 100 Inggris turun 1,21 persen menjadi 6.827. Dax melemah 0,15 persen ke level 10,630 dan CAC melemah 0,28 persen ke level 4,530," ujar Hans.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, inflasi yang ideal yaitu apabila ke depan Indonesia bisa mempertahankan inflasi di level 2 persen-3 persen. Ia mencontohkan Filipina yang selama 15 tahun terakhir berhasil mengendalikan inflasi dari yang tadinya double digit menjadi di level 2,5 persen-3 persen. Kalau inflasi 2,5 persen maka arah biaya dana (cost of fund) akan di bawah itu, karena tingkat bunga tabungan dan giro di bawah inflasi.

Sementara deposito yang di atas inflasi. Jika inflasi Indonesia bisa stabil di level 2,5 persen-3 persen maka Bank Indonesia (BI) bisa berjuang menggiring cost of fund bergerak ke bawah. Hal itu nantinya bisa menyebabkan tingkat bunga kredit perbakan mulai single digit. Menurutnya, pemerintah Indonesia juga telah menargetkan inflasi jangka menengah berada di kisaran 3%-5% year on year (YoY). Oleh karena itu, dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun depan, target inflasi dipatok di titik tengah sebesar 4 persen.

Load More