Bank Indonesia mencatat dunia usaha mulai mengandalkan sumber pembiayaan dari non-perbankan sepanjang tahun ini. Ini merupakan imbas dari sulit turunnya bunga kredit, dan posisi selektif perbankan dalam menyalurkan kredit.
Berdasarkan data Bank Sentral yang dikutip di Kuta, Minggu (4/12/2016), ketika kredit perbankan hanya tumbuh 7,4 persen secara tahunan (yoy) di Oktober 2016, pembiayaan melalui instrumen di pasar modal sudah jauh melewati realisasi di 2015.
Rincinya, pembiayaan melalui surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) dan sertifikat deposito (Negoitable Certificate Deposit/NCD) sebesar Rp166,9 triliun atau melebihi realisasi sepanjang 2015 yang Rp129 triliun. Kemudian pembiayaan dari obligasi korporasi sebesar Rp83 triliun, dibanding sepanjang 2015 yang Rp55,3 triliun.
Melalui penerbitan saham baru (rights issue) dan aksi kepemilikan saham lainnya juga sudah mencapai Rp50,4 triliun, mendekati realisasi sepanjang 2015 yang Rp53,6 triliun.
Direktur Esekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan masih lambannya perbankan dalam merespon penurunan suku bunga acuan BI membuat pembiayaan non-bank menjadi lebih menarik.
Dari sisi perbankan, dia mengatakan hal tersebut juga mencerminkan fungsi intermediasi perbankan yang masih belum efisien karena masih sulitnya menurunkan bunga kredit, padahal suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) sudah turun signifikan.
"Kalau banknya tidak bisa berkompetisi karena suku bunga kreditnya masih tinggi, padahal suku bunga simpanannya sudah diturunkan, sehingga sebagian pangsanya diambil oleh non-bank, itu adalah persoalan perbankan yang harus dibenahi," ujarnya.
Juda juga melihat terdapat kecenderungan perbankan mengambil marjin keuntungan yang terlalu besar, karena masih lebarnya selisih penurunan suku bunga deposito dengan penurunan suku bunga kredit.
"Kami lihat ada pelebaran marjin dari bank saat ini, suku bunga deposito diturunkan terus, tapi kredit masih tinggi. Mungkin untuk cover kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL)," ujarnya.
Menurut Juda, sejak awal 2016, dengan penurunan suku bunga acuan BI sebesar 150 basis poin, suku bunga kredit hingga Oktober 2016 baru turun 62 basis poin, padahal suku bunga deposito sudah turun sebesar 129 basis poin.
Di sisi lain, dengan meningkatnya pembiayaan non-bank, sumber pembiayaan ekonomi dalam negeri menjadi lebih beragam. Menurut Juda, keberagaman sumber pembiayaan akan meningkatkan ketahanan ekonomi ketika dihadapkan pada potensi krisis.
"Semakin diversifikasi ekonomi maka akan semakin 'resilient'. Kalau hanya bergantung pada bank, ketika bank hadapi masalah, maka akan jadi mudah untuk kekurangaan pembiayaan," kata dia. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN