Suara.com - Bank Indonesia melibatkan Tentara Nasional Indonesia di jajaran Komando Distrik Militer 0905/Balikpapan dan Pangkalan TNI Angkatan Laut Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam program menanam cabai sebagai salah satu upaya menekan inflasi di daerah setempat.
"Kami bagikan sebanyak 11.000 bibit cabai di dalam polybag untuk ditanam para prajurit," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Suharman Tabrani di Balikpapan, seperti dilaporkan Antara, Minggu (19/3/2017).
Kodim 0905 Balikpapan sudah berpengalaman dalam hal bercocok tanam, bahkan sudah bertanam padi di dalam pot dari ember plastik besar bekas cat.
"Namanya padi perkotaan," kata Komandan Kodim 0906 Letnan Kolonel TNI Heri Satya.
Menurut Tabrani, sampai saat ini cabai masih menjadi satu komoditas yang memberikan andil pada kenaikan inflasi di Balikpapan.
Permintaannya komoditas itu cukup tinggi, namun tidak sebanding dengan jumlah pasokan, sehingga sebagian besar kebutuhan cabai di Balikpapan dipenuhi dengan mendatangkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.
"Kami ingin mengurangi ketergantungan masyarakat atas pasokan dari luar dengan cara menanam sendiri," katanya.
Kerja sama dengan TNI Angkatan Darat melalui Kodim 0905 dan Lanal Balikpapan untuk menanam cabai adalah perluasan dari program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) yang digelar BI sejak 2016.
Dari tahun 2016 sudah ada 30 SMA dan SMK di Balikpapan yang terlibat program SPI. Sementara pada 2017, BI Balikpapan menambahkan dengan 20 SMP dan lima pondok pesantren di Balikpapan, serta lima SMA/SMK di Penajam Paser Utara.
Baca Juga: Ini Jurus Khofifah Tekan Inflasi Akibat "Pedasnya" Harga Cabai
"Jadi, sekarang ada 60 Sekolah Peduli Inflasi," tambah Suharman Tabrani.
Sebagai penggagas, BI membagikan bibit cabai, membuat pelatihan bagaimana bertanam cabai, dan pendampingan saat bibit-bibit itu mulai ditanam di sekolah dan pesantren tersebut.
"Tahun ini BI juga memberikan pelatihan kewirausahaan," ujarnya.
Ia menambahkan pelatihan kewirausahaan itu dianggap perlu, sebab apabila diusahakan dengan benar, bertanam cabai oleh anak-anak sekolah ini bisa jadi usaha yang menguntungkan.
Dalam pelatihan itu, BI membantu membuat pembukuan usaha hingga mengenalkan pasar, sedangkan perwakilan sekolah diperkenalkan aplikasi "Siapik" atau Sistem Administrasi Pencatatan Keuangan melalui Android.
SMAN 3 Balikpapan yang mulai mengikuti program ini pada tahun 2016, misalnya, dengan tanaman 1.300 rumpun cabai bisa meraup pendapatan hingga Rp7 juta per bulan pada harga cabai berkisar Rp80.000-90.000 per kg.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Perang Timur Tengah Guncang Ekonomi Global, Maskapai hingga Pertanian Alami Kerugian
-
BRI Perkuat UMKM: Dari Modal Rp250 Ribu, Usaha Kuliner Ayam Panggang Bu Setu Sudah Bergulir 35 Tahun
-
Subsidi Energi Bengkak, Program Kompor Listrik Didorong Diperkuat
-
Harga Pangan Nasional Pasca-Lebaran: Cabai Turun Tajam, Daging Sapi Naik
-
Emas Antam Terus Diobral, Hari Ini Harganya Rp 2.810.000/Gram
-
Rupiah Berbalik Melemah, Dolar AS Naik ke Level Rp16.935
-
Laba Bersih DEWA Tembus Rp4,3 Triliun, Naik 1.324 Persen dari Estimasi Awal
-
Pasar EPC Energi Surya Diprediksi Tembus Rp133 Triliun, Peluang Ekonomi Hijau Makin Besar
-
IHSG Masih Jeblok di Jumat Pagi, Diproyeksikan Terus Melemah
-
Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi RON 95 Mulai April 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen dan Ekonomi