Keputusan BRI membeli satelit sendiri memang cukup mengejutkan.Maklum saja, belum pernah ada sejarahnya bank membeli, memiliki, dan mengoperasikan satelit sendiri. Tak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia sekalipun tidak ada bank yang memiliki satelit sendiri.
BRI membeli satelit BRISat dengan merogoh kocek senilai 220 juta Dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,5 triliun jika menggunakan kurs Rupiah pada saat itu. “Biaya ini untuk 45 transponder, tinggal dibagi 220 juta Dolar AS dibagi 45, sekitar 4 juta Dolar AS. Itu dibagi lagi dalam berapa tahun. Itu jauh lebih efisien dibanding kita sewa 350 ribu Dolar AS per transponder,” ujarnya.
Sebelumnya, bank BUMN tersebut harus menyewa transponder satelit dari beberapa perusahaan komunikasi di Indonesia. Setiap tahun, BRI mengeluarkan biaya sekitar Rp500 miliar untuk biaya sewa transponder satelit
Terkait biaya operasional dan pemeliharaan, termasuk penyediaan SDM, Indra menegaskan tak semuanya ditangani sendiri oleh BRI. Walaupun BRISat menjadi milik BRI, namun untuk operasional dan pemeliharaan tetap menggandeng partner seperti PT Telkom dan PT Mitra Saruta Indonesia.
“Jadi operasional di lapangan, tetap berpartner. Yang kita tangani sendiri kan yang di HUB (Pusat,red). Yang di Ragunan, pusat kontrol kita itu kan HUB. Yang operasional di lapangan tetap kita berpartner dengan perusahaan yang memang ahli di bidangnya,” tutupnya.
Penjelasan Indra diperkuat oleh Meiditomo Sutyarjoko, Kepala Divisi Satelit dan Operasional BRI. Dalam wawancara khusus dengan Suara.com di gedung Primary Satellite Control (PSFC) BRI, di Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (23/10/2017), Meiditomo membeberkan lebih detail mengenai BRISat.
“Hampir semua aspek jaringan BRI diperkuat, mulai dari kantor pusat, kantor cabang, ATM, Teras Mobile, Teras Kapal, Mobile Bangking, dan lain -lain. Satelit ini kan seperti ibarat jalan raya,” katanya.
Menurutnya, memiliki satelit sendiri memiliki cost effective yang jauh lebih besar. Apalagi menurut studi Kemenkominfo, suplai transponder mencapai 130 per tahun, lebih sedikit dari besaran tingkat permintaan. Ini membuat harga transponder menjadi lebih mahal.
Baca Juga: "BRIIndocomtech 2017" Berakhir Sukses
Ditambah lagi BRI butuh banyak transponder karena memiliki jaringan layanan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. BRI juga memiliki ratusan aplikasi untuk kebutuhan bisnis perbankan miliknya. Apabila kebutuhan transponder ini dipenuhi dengan menyewa satelit dari perusahaan lain, maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi tinggi.
“Jadi kami lakukan studi kelayakan, diputuskan bahwa kalau memiliki satelit sendiri jauh lebih murah. Sekarang kita rasakan, sekitar 40 persen biaya jaringan komunikasi sudah turun. Dulu kita keluarkan Rp500 miliar setiap tahun saat sewa satelit. Sekarang kira-kira separuhnya. Kita menghemat banyak. Dananya bisa kita simpan untuk ekspansi lain,” jelasnya.
Kini BRI mampu meningkatkan kapasitas jaringan komunikasi hingga empat kali lipat. Kecepatan akses data dari unit-unit dan kantor cabang lebih cepat. “Itu semua dicapai dengan cost yang jauh menurun,” tutupnya.
Namun argumentasi BRI diragukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Direktur Digital Banking & Technology Bank Mandiri, Rico Usthavia Frans tak percaya jika membeli satelit sendiri lebih murah dan efisien bagi industri perbankan. “Ya belum tentu juga. Kan kita belum tahu pasti. Kalau untuk urusan kayak gitu (mana yang lebih murah beli atau sewa satelit,red), kita serahkan saja kepada ahlinya. Mereka kan yang lebih tahu soal investasinya,” kata Rico kepada Suara.com di Jakarta, Selasa (24/10/2017).
Rico menegaskan Bank Mandiri juga belum berpikir untuk mengikuti jejak BRI membeli dan memiliki satelit sendiri. Menurutnya, Bank Mandiri tak memiliki kemampuan dalam pengelolaan satelit.
Berita Terkait
-
BRI Dorong Ekonomi Desa Manemeng, Semangat Marenta Barmak Hidupkan UMKM & Klaster Usaha
-
Desa Pajambon Bersinar: Dari Kebun Jambu hingga Agrowisata, Menjadi Inspirasi Desa BRILiaN Indonesia
-
Sentuhan BRI Dorong Sausu Tambu Jadi Desa Berdaya Berbasis Pariwisata dan UMKM
-
Kampung Koboi Tugu Selatan: Ketika Alam, Tradisi, dan Inovasi Menyatu Membangun Desa BRILiaN
-
Data Lintas Batas RIAS Dibuka, OJK Waspadai Ketergantungan Asing
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar