Suara.com - Pengemudi taksi konvensional resah dengan kehadiran taksi regul (plat hitam) di dalam kawasan Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) Kulon Progo Yogyakarta yang memberlakukan tarif berdasarkan aplikasi online.
Salah satu pengemudi taksi konvensional, Juhirman, bukan nama sebenarnya, mengungkapkan keresahan tersebut. Ia mengemukakan meski tidak ada taksi online yang beroperasi di kawasan Bandara YIA, namun omzetnya tetap menurun drastis.
"Kalau taksi online tidak bisa masuk ke kawasan sini. Mereka hanya bisa beroperasi di luar area, tapi yang kita resahkan ada lah para taksi regul yang tiap hari mengambil customer kita," kata Juhirman Senin (24/6/2019)
Menurut Juhirman, pengemudi taksi regul mengaku sebagai korban terdampak dari pembangunan bandara YIA. Tetapi yang dipermasalahan adalah para sopir taksi regul membanting harga. Akibatnya, sopir taksi konvensional kehilangan penumpang.
"Mereka pakai harga taksi online, tapi masih bisa ditawar lagi. Ngakunya sih sebagai eks korban pembangunan YIA, karena itu alasannya mereka punya hak untuk mengambil penumpang," tambahnya
Padahal kata Juhirman, untuk menjadi sopir taksi konvensional mereka harus membayar beragam iuran kepada Angkasa Pura.
"Untuk stiker taksi bandara saja harganya Rp 500.000. Biaya parkir satu selop Rp 125 juta pertahun. Itu belum biaya operasional lainnya," katanya
"Ditambah lagi dengan kehadiran regul ini, kita bisa jadi enggak narik. Bahkan, dua hari ini saya enggak narik. Banyak taksi-taksi lumpuh jadinya," tambahnya.
Menurut penuturan Juhirman ada setidaknya 15 taksi regul yang terdeteksi. Ia berharap pihak angkasa pura turun tangan.
Baca Juga: Pengamat: Penumpang Bandara Yogyakarta YIA Butuh Taksi Online
"Paling tidak yang terdeteksi itu ada 15 unit, tapi menurut saya lebih dari itu. Kami berharap pihak angkasa pura turun tangan, karena kami legal dan sudah kerjasama sama Angkasa Pura," ujarnya.
Berdasarkan temuan Suara.com di lapangan, setidaknya ada dua sopir regul yang sedang beroperasi. Korbannya adalah Muhaimin, bukan nama sebenarnya penumpang asal palangkaraya yang sedang ingin berkunjung ke Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.
Salah satu driver memperlihatkan tarif menuju gemolong sebesar Rp 575.000. Patokan itu menjadi acuannya berdasarkan aplikasi ojek online. Harga tersebut masih bisa ditawar hingga Rp. 400.000.
"Ini yang membuat kita bangkrut. Kalau tarifnya segitu, bagi kita cukup buat cicilan. Terus kita mau makan apa," imbuh Juhirman.
Hardi sopir taksi konvensional lain juga mengatakan hal serupa. Namun ia tidak mempermasalahkan segala jenis taksi jika ingin beroperasi di wilayah bandara YIA.
"Silahkan beroperasi, asal ikut aturan. Bayar cicilan seperti kita, punya kontrak, punya seragam. Kan rejeki dari Tuhan. Tapi untuk memperoleh rezeki itu harus dengan cara yang benar, ikut prosedur," paparnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026