Bisnis / Makro
Jum'at, 27 Februari 2026 | 21:32 WIB
Proyek Percontohan "Gentengisasi" Prabowo Disorot, Kontraktor Justru Jujur: Kita Pakai Spandek. Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • Menteri PKP mulai bedah 82 rumah di Menteng Tenggulun dengan kebijakan wajib pakai genteng.
  • Proyek kolaborasi lintas sektor ini akan menyulap pemukiman padat menjadi sentra kuliner UMKM.
  • Kontraktor akui rumah yang rampung masih pakai spandek, menunggu arahan lanjut dari donatur.

Suara.com - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, tancap gas memulai proyek percontohan bedah rumah di kawasan padat penduduk Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat. Proyek ini bukan sekadar renovasi biasa, melainkan menjadi panggung perdana kebijakan "gentengisasi" atau penggantian atap rumah warga menjadi genteng.

Dalam kunjungannya pada Jumat (27/2/2026), menteri yang akrab disapa Ara ini menegaskan komitmennya untuk mengubah wajah kawasan kumuh menjadi lebih layak huni. Ia menggandeng berbagai pihak, mulai dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), yayasan sosial, sektor swasta, hingga TNI Angkatan Laut (AL).

"Kita usahakan semuanya pakai genteng ya. Jelas ya? Pakai genteng," tegas Ara saat menginstruksikan jajaran Dirjen Perumahan dan pengawas proyek di lokasi.

Proyek Percontohan "Gentengisasi" Prabowo Disorot, Kontraktor Justru Jujur: Kita Pakai Spandek. Foto Fakhri-Suara.com

Targetnya, sebanyak 82 rumah di kawasan tersebut akan direnovasi. Tak hanya urusan atap, Menteng Tenggulun diproyeksikan bertransformasi menjadi sentra kuliner bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal sekaligus menata kawasan pemukiman padat di jantung ibu kota.

Meski instruksi "gentengisasi" menggema kuat, fakta di lapangan menunjukkan tantangan tersendiri. Berdasarkan pantauan, dua rumah yang telah rampung direnovasi justru belum menggunakan genteng, melainkan atap berbahan spandek.

Hanif, kontraktor yang menangani proyek tersebut, mengaku sejauh ini pihaknya memang memasang spandek sesuai arahan awal sejak dua bulan lalu.

"Bukan (genteng), ini spandek. Kitanya tuh ditanya pakai apa? Pakai spandek. Tapi nanti kemauan donaturnya seperti apa, kita ikutin," ujar Hanif.

Tantangan koordinasi ini menjadi catatan penting di tengah ambisi besar Kementerian PKP. Kini, publik menanti apakah 80 rumah tersisa benar-benar akan "berselimut" genteng sesuai titah Sang Menteri, ataukah kendala teknis dan keinginan donatur akan mengubah arah kebijakan di lapangan.

Baca Juga: Media Asing Soroti Lunaknya Prabowo di Hadapan Trump

Load More