Suara.com - Cuaca yang tidak menentu, yang berpotensi menyebabkan kekeringan atau banjir, membuat Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan petani untuk menyadari pentingnya asuransi pertanian.
Hal ini juga berlaku bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang akan mengasuransikan 8.500 hektare lahan pertanian padi sawah. Menurut Analis Pasar Hasil Pertanian Dinas Pertanian Kepulauan Babel, Intan Fortuna, asuransi pertanian ditujukan untuk memotivasi petani agar terus mengembangkan usaha pertanian di daerah penghasil bijih timah itu.
"Apabila padi sawah yang diasuransikan ini gagal panen, maka pemerintah akan membayar ganti rugi Rp 6 juta per hektare kepada petani," katanya, usai rapat koordinasi dampak kekeringan di Pangkalpinang, Babel, Senin (5/8/2019).
Ia mengatakan, lahan pertanian seluas 8.500 hektare ini diasuransikan, sesuai target pemerintah daerah dalam meningkatkan luas panen dan produksi padi di Babel. Dana asuransi pertanian tersebut berasal dari APBN seluas 5.000 hektare dan APBD 3.500 hektare.
"Saat ini, kita sudah mendaftarkan 2.400 hektare pertanian sawah petani untuk diasuransikan, sehingga mereka akan tidak mengalami kerugian bila terjadi gagal panen, akibat kemarau panjang dan hama," ujarnya.
Menurut Intan, ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektare tanaman padi gagal panen ini cukup untuk membeli bibit, pupuk dan pengolahan lahan pertanian tersebut.
"Petani yang berhak mendapatkan asuransi adalah petani yang memiliki luas lahan maksimal dua hektare, " katanya.
Ia menambahkan, saat ini minat petani untuk mengikuti program asuransi pertanian masih kurang, karena sosialisasi yang belum optimal.
"Kita bersama petugas lapangan terus menyosialisasikan program asuransi ini, agar mereka bisa memanfaatkan program tersebut untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produksi padinya," katanya.
Baca Juga: Cegah Resistensi Antimikroba, Kementan X FAO Luncurkan Buku
Sementara itu, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, harga premi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) relatif sangat murah. Manfaatnya sangat besar bagi petani, terutama di musim kemarau seperti saat ini.
"Sebelum mulai menanam, sebaiknya didaftarkan asuransi dulu. Bayarnya tak mahal, karena disubsidi pemerintah. Petani yang sawahnya kekeringan dapat ganti Rp 6 juta per hektare," ujarnya.
Menurutnya, AUTP merupakan cara Kementan untuk melindungi usaha tani agar petani masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT. Karena AUTP menjadi program Kementan, premi asuransi tani tersebut sampai saat ini masih disubsidi pemerintah Rp 144 ribu per hektare.
"Kami harapkan semua petani padi bisa mendaftar sebagai anggota AUTP. Karena harga preminya murah dan sangat bermanfaat," ujarnya.
AUTP tak hanya diperuntukkan bagi petani yang lahan sawahnya berada di kawasan rawan bencana dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), tapi juga untuk petani yang lahan sawahnya aman dari bencana.
"AUTP akan terus kami sosialisaikan ke petani, karena ini menjadi bentuk perlindungan kepada mereka. Saat ini sudah banyak petani yang menjadi anggota AUTP, " papar Sarwo lagi.
Berita Terkait
-
Realisasi Premi Asuransi Ternak Sapi hingga Juli 2019 Capai Rp 17,48 M
-
Cegah Resistensi Antimikroba, Kementan X FAO Luncurkan Buku
-
Lindungi Lahan Pertanian, Purwakarta Tolak Izin Pembangunan Perumahan
-
Gula Semut dari Kulon Progo Diminati Pasar Internasional
-
Atasi Kekeringan, Kementan Perkuat Koordinasi Tim Upaya Khusus di Daerah
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok