Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini dibuka menguat. Rupiah dibuka menguat 94 poin atau 0,66 persen ke level Rp 14.188 per dolar AS versi data RTI yang dikutip Rabu (4/3/2020).
Sementara itu, data dari perdagangan Bloomberg nilai tukar rupiah dibuka perkasa di kisaran Rp 14.160 per dolar AS.
Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 13.967 per dolar AS.
Menguatnya Rupiah ini imbas bank sentral AS memangkas suku bunga dalam langkah darurat yang dirancang untuk melindungi ekonomi terbesar dunia itu dari dampak virus corona.
Chairman The Fed, Jerome Powell menegaskan kembali pandangannya bahwa ekonomi Amerika Serikat tetap kuat, dia mengakui bahwa penyebaran virus itu menyebabkan perubahan material dalam prospek pertumbuhan bank sentral AS, demikian laporan Reuters, Rabu (4/3/2020).
"Virus dan langkah-langkah yang diambil untuk menahannya pasti akan membebani aktivitas ekonomi, baik di sini maupun di luar negeri, untuk beberapa waktu," kata Powell dalam konferensi pers tak lama setelah The Fed mengatakan pihaknya memangkas suku bunga setengah poin persentase ke kisaran target 1 persen hingga 1,25 persen.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,41 persen menjadi 97,13. Indeks itu tergelincir ke level terendah delapan pekan, yakni 96,926, setelah keputusan The Fed sebelum mengurangi kerugian.
"Ini jelas tidak bagus bagi dolar," kata Mark McCormick, Kepala Strategi FX Global TD Securities.
Kendati Amerika memiliki ruang untuk memangkas suku bunga, negara maju lainnya telah memangkas suku bunga ke rekor terendah dan mungkin ragu untuk menurunkannya lebih lanjut.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Terhadap Dolar AS, Meski Corona Sudah Masuk RI
"Itu kemungkinan akan membebani dolar AS dan meningkatkan mata uang negara lain," kata dia.
Langkah The Fed itu terjadi tak lama setelah pejabat keuangan Group of Seven (G7) yang mengatakan mereka akan menggunakan semua alat kebijakan yang tepat untuk mencapai pertumbuhan global yang kuat dan berkelanjutan serta berupaya memerangi risiko penurunan yang ditimbulkan oleh virus corona yang menyebar cepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Kontradiksi Efisiensi Pemerintah saat Ekonomi Lagi Susah
-
Gebrakan Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya: Raih KWP Award 2026 Lewat Visi Transisi Energi
-
Bahlil Pastikan Stok BBM Aman: ICP Baru Naik 7 Dolar AS
-
Mendag: Harga Minyak Goreng Naik Akibat Mahalnya Plastik
-
Akan Beli Minyak dari Rusia, Bahlil Upayakan Dapat Harga Murah
-
Prediksi Purbaya: Defisit APBN Turun ke 2,8 Persen
-
Harga Minyakita Meroket, Mendag: Stoknya Memang Terbatas
-
IHSG Terus Memerah Hingga Akhir Perdagangan ke Level 7,621, Cek Saham yang Cuan?
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya