Suara.com - Sepanjang semester I 2020, pemerintah telah mengeluarkan Rp 157,6 triliun untuk membayar bunga utang. Pembayaran bunga utang ini mencakup kupon dan diskon surat berharga negara, bunga pinjaman, dan biaya-biaya lain yang timbul dalam pengadaan dan pengelolaan utang.
Mengutip Laporan Pemerintah Tahun Anggaran 2020 Tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada Semester I 2020, Jumat (10/7/2020), menyebut realisasi pembayaran bunga utang sudah mencapai Rp 157,6 triliun atau 46,5 persen dari pagunya sesuai Perpres Nomor 72 Tahun 2020.
Realisasi ini terdiri atas pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp 148,0 triliun atau 46,4 persen dari pagunya dan pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp 9,6 triliun atau 48,9 persen dari pagunya.
Meskipun realisasi pembayaran bunga utang dalam semester I tahun 2020 secara persentase lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019, namun nominal realisasi bunga utang relatif lebih tinggi.
Hal ini disebabkan oleh peningkatan target pembiayaan utang secara signifikan untuk mengatasi tambahan defisit dan pembiayaan nonutang dalam menangani pandemi Covid-19 serta dampaknya terhadap perekonomian.
Selain itu, pada triwulan II terjadi peningkatan imbal hasil SBN dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang juga turut menyumbang peningkatan pembayaran bunga utang pada semester I 2020.
Tren peningkatan imbal hasil mengakibatkan peningkatan diskon yang dibayarkan pemerintah pada saat penerbitan, sedangkan pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada peningkatan pembayaran utang dalam mata uang asing.
Peningkatan imbal hasil terjadi akibat ekspektasi pesimis pelaku pasar terhadap gejolak perekonomian domestik dan global akibat pandemi Covid-19, sehingga mengakibatkan volatilitas pasar keuangan yang sangat tinggi.
Namun demikian, pada bulan Juni 2020, pasar keuangan domestik mengalami perbaikan yang berdampak positif pada imbal hasil dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Soal Utang BUMN, Fadli Zon: Bisa Picu Krisis Lebih Besar seperti 1998
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran
-
Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk
-
Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas
-
Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!
-
Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci
-
Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan
-
Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat
-
Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun
-
Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026