Suara.com - Dalam rangka mendukung kegiatan Pengembangan Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan Tahun Anggaran 2020, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan mengundang guru besar dari Universitas Jenderal Soedirman Prof. Loekas Soesanto, M.S., Ph.D untuk melakukan kegiatan Bimbingan Teknis tentang Pengenalan dan Penanganan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) Tanaman Kopi di Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kegiatan diisi dengan sesi pemaparan materi oleh Loekas Soesanto, sesi diskusi (tanya jawab) dan juga pemaparan tentang pengalaman petani selama ini sebagai petani kopi, cabai dan sayur-sayuran.
Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Sigit Wahyudi menjelaskan, melalui kegiatan bimbingan teknis ini, petani kopi mampu mengenali gejala serangan OPT dan menerapkan teknik pengendalian secara PHT di kebunnya masing–masing.
Sehingga program desa pertanian organik bisa semakin berkembang dan membentuk kawasan organik di desa tersebut.
“Bimbingan teknis tersebut tidak hanya dihadiri oleh petani kopi, tetapi juga petugas UPPT Tapsel dan pendamping lapangan dari Dinas Kabupaten Tapanuli Selatan,” kata Sigit dalam keterangannya, Selasa (15/9/2020).
Sementara itu, Guru Besar dari Universitas Jenderal Soedirman Prof. Loekas menambahkan, pengenalan OPT tanaman kopi, perbedaan gejala serangan OPT dan kekurangan unsur hara, serta teknik penanganan OPT dan kekurangan unsur hara tersebut dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
“Kita berharap, agar petani kopi di desa bisa menerapkan sistem pengendalian secara PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan menjadi “Dokter Tanaman” di kebunnya masing-masing,” harap Loekas.
Sesi diskusi dilanjutkan kunjungan ke beberapa kebun kopi petani yang terserang OPT. Beberapa OPT yang ditemukan seperti serangan nematoda, PBKo, karat daun, antraknose buah dan jamur akar. Selain serangan OPT, juga ditemukan kebun petani yang kekurangan unsur Magnesium. Beliau menjelaskan perbedaan gejalanya.
Dikarenakan desa tersebut telah dipilih dalam program pengembangan desa pertanian organik tahun anggaran 2020, maka beliau sangat mengharapkan agar petani mengurangi penggunaan bahan kimia bahkan tidak menggunakannya sama sekali. Karena bahan kimia dianggap bukan solusi, namun hanya akan merusak unsur hara mikro yang ada di dalam tanah.
Baca Juga: Jangan Kelewatan, 5 Promo Minuman Kopi dan Boba Hingga Akhir 2020
Loekas juga memberikan solusi dengan menggunakan metabolit sekunder yang merupakan hasil pengujian beliau selama beberapa tahun. Dalam hal ini beliau tidak bermaksud untuk menjual produk tersebut, namun mengajarkan kepada petani untuk membuatnya sendiri, karena selain mudah, bahan-bahan yang diperlukan bisa diperoleh dari alam.
Adapun bahan-bahan yang diperlukan seperti air leri, air kelapa, gula, keong dan akar putri malu.
Petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini mulai dari pemaparan materi, diskusi, praktek di lapangan dan pembuatan bahan yang disebut sebagai obat untuk mengendalikan OPT tanaman perkebunan, pangan dan hortikultura.
“Petani sangat berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini sering dilakukan sehingga petani tidak buta dalam pengenalan dan penanganan OPT tanaman kopi kedepannya. Hal ini merupakan tugas bagi balai untuk membantu petani di Prov. Sumatera Utara,” pungkas Loekas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Impor Barang Modal RI Melonjak 34 Persen
-
Laba Bersih Melonjak 79 Persen, Seabank Bakal Luncurkan Debit Card Tahun Ini
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya
-
Harga Cabai Rawit dan Beras Naik, Daging Sapi Turun Harga
-
Pembatasan BBM Berpotensi Bikin Harga Kebutuhan Pokok Naik
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Harga Emas Pegadaian Minggu 5 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bakal Naik?
-
Profil PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), Emiten Fasilitas Batu Bara Milik Haji Isam
-
Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
-
Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI