Suara.com - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo akan memantau suku bunga perbankan, terutama suku bunga kredit.
Dalam memantau suku bunga kredit, Perry menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan meminta Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) para bank-bank.
"Kami dan Pak Wimboh koordinasi. Selama ini bank-bank sudah siapkan laporan SBDK dan sudah publikasi ke OJK, dan BI dapat tembusannya. Nah yang kami lakukan adalah bagaimana transparansi itu assesment SBDK itu sebagaimana tempo hari saya jelaskan," ujar Perry dalam konferensi pers KSSK yang ditulis, Selasa (2/2/2021).
Perry meminta, perbankan juga harus transparan menyampaikan tingkat suku bunga kredit. Sebab, ia akan memantau dari segi kelompok bank dan kenaikan serta penurunan suku bunga kredit.
Menurut Perry, langkah ini agar para dunia usaha bisa membedakan suku bunga kredit mana yang terbaik, sehingga bisa kembali meminjam dana ke bank.
"Jadi assesment suku bunga kredit SBDK dan kelompok bank per jenis kreditnya, dan spread-nya dengan suku bunga acuan Bank Indonesia dan spread-nya dengan suku bunga deposito proxy cost of fund, trennya penurunan seperti apa, kelompok bank mana, jenis kredit apa," jelas dia.
Perry tetap meminta, agar perbankan bisa menurunkan kembali suku bunga kreditnya. Hal ini, agar para dunia usaha kembali meminjam dana ke bank untuk ekspansi usahanya. Dan imbasnya perekonomian akan tergerak dan makin pulih.
"Di samping juga kita dorong bank-bank untuk turunkan suku bunga kredit lebih lanjut, tapi memang sesuai kondisi bank," ucap dia.
Sebelumnya, Perry mengingatkan perbankan untuk bisa menurunkan suku bunga kreditnya.
Baca Juga: Pesan Bos BI untuk Pebankan, Suku Bunga Kredit Masih Bisa Turun
Selain itu, suku bunga acuan atau 7-day Reverse Repo Rate BI juga masih rendah yang tetap berada di level 3,75 persen.
Perry melihat, saat ini sudah suku bunga kredit sudah turun dari 9,32 persen pada November 2020 menjadi 9,21 persen pada Desember 2020.
"Penurunan suku bunga kredit diprakirakan akan berlanjut dengan longgarnya likuiditas dan rendahnya suku bunga kebijakan Bank Indonesia," ujar Perry dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (21/1/2021).
Perry memaparkan, pada tahun 2020 BI telah menambah likuiditas di perbankan sekitar Rp 726,57 triliun.
Penambahan ini, terutama bersumber dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 555,77 triliun.
Menurutnya, BI akan melanjutkan penambahan likuiditas pada tahun 2021 dengan melakukan ekspansi operasi moneter sekitar Rp 7,44 triliun hingga 19 Januari 2021.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya
-
Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan
-
MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni
-
Promosikan Platform Investasi Ilegal, Sejumlah Influencer Dijewer Satgas PASTI
-
IHSG Terbang 2,83% Pekan Ini Dorong Nilai Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.788 Triliun
-
Di Balik Insentif Motor Listrik, Ada PR Besar Bernama Keselamatan
-
Indonesia Sustainability Award Apresiasi Komitmen ESG dan Pemberdayaan Berkelanjutan PNM
-
Mengapa Harga Emas Antam Terjun Bebas Pekan Ini? Simak Analisisnya
-
Karir Pekerja Terancam AI? Ini Kunci Agar Tetap Relevan di Masa Depan
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi