Suara.com - Jumlah unicorn Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan China dan Amerika. Pemerintah daerah yang terlambat menyadari potensi lokal dan minim dukungan diduga jadi penyebabnya.
CEO MDI Ventures Donald Wihardja menyebut, baru sekitar lima tahun belakangan investor lokal mulai melirik start-up atau perusahaan rintisan lokal.
Keterlambatan ini diduga jadi salah satu penyebab Indonesia tertinggal dengan China dan Amerika Serikat.
Saat ini, baru ada 8 perusahaan unicorn di Indonesia. Sementara China dan Amerika Serikat masing – masing memiliki lebih dari 100 unikorn.
“Dahulu hanya ada segelintir investor [Venture Capital/VC], dengan modal kecil, yang terfokus di sana, sedangkan Private Equity [PE], family office, dan corporate tidak ‘mengerti’ sektor ini,” kata Donald, dilansir dari Solopos.com --jaringan Suara.com.
Donald menambahkan VC generasi pertama hanya dapat mengumpulkan sedikit uang, di bawah US$30 juta per VC, dan terutama dari individu yang juga belum berani main banyak di sini.
Donald lantas menyebut, hal ini mengakibatkan VC hanya berani investasi kecil dan banyak membuka peluang bagi VC-VC regional untuk bergabung atau tergabung bersama dalam coinvest.
Saat ini VC mulai mengumpulkan dana dari institusi pendanaan global, dengan pendanaan generasi 2020 ke atas yang berukuran US$100 juta ke atas.
“Yang juga perlu diketahui adalah, walaupun VC nya lokal dan mempunyai independensi lokal yang kuat, uang yang mereka salurkan banyak dari investor Internasional, dari USA, Eropa, dan Asia. Karena yang “kenal” asset class ini lebih investor internasional,” kata Donald.
Baca Juga: Profil Paul Munster, Pelatih Bhayangkara FC yang Kritik Shin Tae-yong
Menurut dia, dana lokal terbanyak dalam negeri berasal dari korporasi atau konglomerat Indonesia.
Melalui kerja sama yang terjalin antara VC dan korporasi muncul kesempatan untuk menumbuhkan alokasi dana yang bisa mendukung perusahaan rintisan.
Donald juga menjelaskan, MDI Ventures adalah korporasi Venture Capital yang menyalurkan dana milik Telkom Indonesia.
“Setelah kami membuktikan kami bisa mengelola US$100 juta pertama kami di 2016-2020, Telkom bisa langsung memperbesar alokasi dananya 5x lipat [US$500 juta]” kata Donald.
Berita Terkait
-
Konsep Racing Blood of Yamaha, MX-King 150 Dapat Livery Khusus Desain Balap
-
5 Hits Bola: Anak David Beckham Jalani Debut Profesional, Neville Terkesan
-
Pemerintah Ancam Pidana Pelaku Pengalihan Aset BLBI
-
Tegaskan Covid-19 di RI Terkendali, Satgas Wanti-wanti Potensi Gelombang Ketiga Pandemi
-
Sulit Samakan Visi, Rio Adiwardhana Pilih Solo Karier Ketimbang Band
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
Terkini
-
Kapal Tanker Iran Masuk Wilayah Indonesia Menuju Kepri, Lolos dari Militer AS!
-
Prabowo Targetkan 71 Kota Sulap Sampah Jadi Listrik di 2029
-
Jangan Menduga-duga, Menhub Minta Semua Pihak Tunggu Hasil Investigasi Kecelakaan KRL
-
Emiten LPKR Bukukan Laba Bersih Rp 107 Miliar di Kuartal I-2026
-
Pemerintah Mulai Ubah Sampah di Jakarta Jadi Listrik
-
Akui Kecolongan, Purbaya Copot 2 Pejabat Kemenkeu Buntut Kasus Restitusi Pajak
-
Alasan Target Harga BBRI Tembus Rp4.000, Ini Analisa Lengkapnya
-
Pengelola Kopdes Merah Putih Bakal Digembleng Latihan Komcad
-
Laba BBRI Melesat, Analis Beri Target Harga Segini
-
Emiten MPMX Raup Laba Bersih Rp 173 Miliar di Kuartal I-2026