Bisnis / keuangan
Iwan Supriyatna
PT Jamkrindo memberikan dukungan penuh terhadap pengembangannya melalui berbagai program keberlanjutan.

Suara.com - Wilayah Yogyakarta memiliki banyak potensi, daya tarik, dan keunikan. Hal tersebut membuat Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Salah satu potensi besar yang terdapat di Yogyakarta ialah potensi ekonomi kreatif.

Industri ekonomi kreatif telah lama menjadi salah satu tumpuan masyarakat dalam memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Melihat potensi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta, PT Jamkrindo memberikan dukungan penuh terhadap pengembangannya melalui berbagai program keberlanjutan untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas usaha pelaku UMKM.

Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain, pendampingan UMKM dan program pendanaan usaha mikro dan kecil (PUMK) yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.

Baca Juga: Fantastis Anak Bangsa Ciptakan Platform Bisnis Dorong Inklusivitas pada Ekonomi Kreatif

Direktur Utama PT Jamkrindo Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perusahaan telah membina banyak pelaku UMKM di Yogyakarta, yang mayoritas terlibat dalam sektor industri kreatif.

"Seperti kita tahu Yogyakarta telah menjadi rumah bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan usahanya dan kami percaya visi pemerintah untuk menjadikan Yogyakarta sebagai The City of Creative dapat berjalan dengan baik dengan dukungan dari berbagai pihak,” ujar Putrama ditulis Senin (18/10/2021).

Salah satu pegiat industri kreatif kerajinan perak Yogyakarta yang menjadi mitra binaan Jamkrindo adalah Nur Purwanto pemilik usaha Nur Silver. Ia telah menjalankan usahanya sejak tahun 1985 dan menjadi generasi ketiga penerus usaha kerajinan tangan silver.

Toko miliknya terletak di Jalan Kemasan No 69 Kotagede. Kotagede merupakan pusat kerajinan perak terbesar di Yogyakarta.

Produk silver/plated yang dijual oleh Nur Silver antara lain piring, mangkok, sendok/garpu makan, bros, cincin, miniatur borobudur, kapal, becak, dan andong, kerajinan tersebut diproduksi rumahan.

Baca Juga: Geliat Industri Ekonomi Kreatif Meningkat, HATCH 2021 Umumkan 20 IP Terpilih

”Kerajinan silver merupakan budaya turun temurun sejak berdirinya keraton di Yogyakarta,” ujar Purwanto.

Nur bergabung menjadi Mitra Binaan Jamkrindo pada tahun 2018. Dengan menjadi mitra binaan Jamkrindo banyak manfaat yang ia terima antara lain akses permodalan dan juga pendampingan.

”Usaha kami meningkat berkat penambahan modal yang diberikan. Jamkrindo juga sangat membantu membuka akses pemasaran kami dengan cara mengikutsertakan kami dalam bazar atau pameran secara gratis hingga kemudian omzet kami pun naik,” ujar Nur.

Kondisi pandemi ia akui telah memberikan dampak signifikan kepada bisnis yang ia kelola. Omzet bisnisnya menurun drastis akibat pandemi covid-19.

”Omzet kami sempat merosot hingga 60%. Hal tersebut dikarenakan ada karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat jumlah wisatawan menurun, serta kondisi pandemi ini membuat masyarakat lebih memilih membelanjakan uang yang dimiliki untuk kebutuhan pokok dan kesehatan,” ujarnya.

Di masa pandemi ini ia cukup merasa beruntung karena dengan pendampingan yang diberikan Jamkrindo, bisnisnya tetap dapat bertahan. Banyak akses pelatihan online yang diberikan oleh Jamkrindo di masa pandemi ini.

”Pada bulan Oktober 2021 ini kami juga telah menerima program pendanaan usaha mikro dan kecil (PUMK) kedua kalinya dengan nominal Rp 30 juta. Pendanaan tersebut kami akan gunakan untuk mengembangan usaha,” ujarnya.

PT Jamkrindo merupakan anggota dari holding Indonesia Financial Group (IFG). Sebagai perusahaan penjaminan kredit, Jamkrindo memiliki berbagai produk, baik produk penjaminan program maupun penjaminan nonprogram.

Pada penjaminan program, PT Jamkrindo memiliki produk penjaminan kredit usaha rakyat (KUR) dan penjaminan kredit modal kerja (KMK) dalam rangka program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Adapun, untuk penjaminan non-program, produk penjaminannya adalah penjaminan kredit umum, penjaminan kredit mikro, penjaminan kredit konstruksi dan pengadaan barang/jasa, penjaminan distribusi barang. Kemudian surety bond, customs bond, penjaminan keagenan kargo, penjaminan supply chain financing (invoice financing), dan penjaminan bagi lembaga fintech.

Sampai dengan September 2021, PT Jamkrindo bersama dengan anak usahanya PT Penjaminan Jamkrindo Syariah (Jamsyar), telah mencatatkan volume penjaminan senilai Rp 21,477 triliun dengan rincian PT Jamkrindo senilai Rp 14,297 triliun dan PT Jamsyar senilai Rp 7,179 triliun.

Adapun jumlah debitur terjamin ialah sebanyak 1.422.958 debitur. Sementara untuk KUR, PT Jamkrindo telah merealisasikan volume penjaminan sebesar Rp 100,513 triliun dengan jumlah debitur terjamin sebanyak 2.978.410.

Komentar