Suara.com - Para investor khawatir adanya ledakan inflasi dan kebijakan mpneter yang lebih parah dibandingkan wabah COVID-19. Hal ini disampaikan The Fed pada Senin (8/11/2021) dalam laporan terbaru tentang stabilitas keuangan.
Laporan tahunan pada saat yang sama juga menyebut adanya peningkatan penggunaan stablecoin dan saham meme hingga dianggap perlunya perhatian agar mampu menanggapi risiko potensial baru pada sistem keuangan.
Sekitar 70 persen pelaku pasar yang disurvei oleh the Fed menandai inflasi dan kebijakan Fed yang lebih ketat sebagai perhatian utama mereka selama 12 hingga 18 bulan ke depan, menjelang varian COVID-19 yang kebal vaksin dan potensi tindakan keras peraturan China.
Saat ini, The Fed masih berjuang dengan risiko inflasi itu sendiri ketika bank sentral memperdebatkan kapan suku bunga mungkin perlu naik. Investor juga dituntut bertindak cepat.
Inflasi dianggap salah satu kekhawatiran berlebih usai wabah COVID-19 mampu diatasi dan semakin membaik. Namun risiko keuangan tetap membayangi.
"Kebijakan fiskal dan moneter akomodatif, bersama dengan kemajuan lanjutan pada vaksinasi, terus mendukung pemulihan ekonomi yang kuat," kata laporan itu.
"Meskipun korban manusia yang tragis, varian Delta telah meninggalkan jejak terbatas di pasar keuangan AS," lanjut laporan itu.
Kerentanan dalam bisnis dan rumah tangga turun, berkat suku bunga rendah dan program dukungan pemerintah. Harga rumah naik secara luas, tetapi ada sedikit tanda erosi dalam standar penjaminan emisi atau perilaku spekulatif.
Sementara kualitas kredit keseluruhan portofolio bank meningkat secara luas dalam enam bulan terakhir, the Fed mencatat tingkat tunggakan untuk peminjam real estat komersial dan industri lain yang terkena dampak pandemi tetap tinggi. Ini juga menandai bahwa leverage tetap tinggi untuk perusahaan asuransi jiwa dan dana lindung nilai.
Baca Juga: Meski Ada Tapering Off The Fed, Pasar Modal Diramal Tetap Tumbuh
Tetapi the Fed memang mengidentifikasi kekhawatiran, yang disebabkan ketidakpastian selama pandemi, tingkat dukungan pemerintah, dan rebound ekonomi yang diharapkan.
"Ketidakpastian selama pandemi dan berakhirnya program bantuan dapat menimbulkan risiko signifikan terhadap neraca rumah tangga," kata laporan itu.
Untuk pertama kalinya, the Fed mencurahkan sebagian dari laporannya untuk secara khusus mengeksplorasi volatilitas cepat yang didorong oleh media sosial di beberapa saham "meme" seperti GameStop dan AMC Entertainment Holdings Inc.
Berita Terkait
-
Minyak Goreng Sampai Deterjen Diprediksi Sumbang Inflasi Jelang Akhir 2021
-
Waduh! Triliunan Dana Asing Kabur Pada Awal Pekan November
-
Jelang IPO, Perusahaan Ini Pertimbangkan Bitcoin Untuk Transaksi Warga
-
Tapering The Fed Diprediksi Tak Beri Dampak Signifikan Pada Ekonomi Indonesia
-
Jelang Tapering The Fed, Harga Emas Dunia Kian Merosot
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik