Suara.com - Pemerintah disarankan mengimpor sapi bakalan daripada impor daging beku untuk memenuhi kebutuhan daging nasional karena lebih menguntungkan dan memberi dampak ganda bagi perekonomian nasional.
Hal ini disampaikan Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Didiek Purwanto Didiek dalam webinar mengenai impor daging yang diselenggarakan oleh Pataka yang dipantau di Jakarta, Kamis (13/1/2021).
Menurutnya, impor sapi bakalan bisa menggerakkan ekonomi di usaha penggemukan sapi sementara impor daging beku hanya akan dijual langsung kepada konsumen.
Ia memberi contoh, jika dilakukan impor 100 kg daging maka hanya akan menyediakan 100 kg daging untuk dikonsumsi. Sementara jika impor sapi bakalan seberat 300 kg yang jika dikonversikan menjadi daging seberat 100 kg bisa menghasilkan sapi seberat 476 kg atau setara daging 167 kg dalam 90 sampai 120 hari.
Selama proses penggemukan yang memakan waktu 90 sampai 120 hari tersebut, diperlukan pangan lokal berupa tumbuhan hijau, konsentrat, limbah pertanian, dan mineral yang diproduksi di dalam negeri.
Selain itu, sapi bakalan yang telah digemukkan juga bisa menghasilkan produk sampingan lain berupa jeroan, lemak, tulang untuk bahan baku sejumlah masakan dan juga menghasilkan kompos dari kotoran sapi.
"Beda dengan daging beku, impor 20 ribu ton, ya cuma 20 ribu ton, tidak ada peningkatan apa-apa, tidak ada multiplier efek di situ, tidak ada proses produksi, tidak ada keterlibatan banyak orang," kata Didiek via Antara.
Diperkirakan, daging sapi tahun 2022 yang diperkirakan masih akan minus 290 ribu ton. Hal itu didapatkan dari estimasi kebutuhan sebanyak 706 ribu ton sementara produksi lokal hanya 415 ribu ton.
Sehingga, membutuhkan impor sapi bakalan sebanyak 625 ribu ekor yang setara dengan 119.806 ton daging serta tambahan impor daging sebanyak 170.652 ton untuk memenuhi defisit tersebut.
Baca Juga: Cara Membuat Sate Maranggi yang Empuk, Spesial Nikmat Khas Purwakarta
Terlebih, menurut Didiek, defisit daging sapi secara nasional terus meningkat sejak 2016 yang sebesar 250 ribu ton menjadi paling tinggi 294 ribu ton pada tahun 2020 dan kembali menurun menjadi 270 ribu ton pada 2021.
Berita Terkait
-
Tahun Baru Berlalu, Harga Daging Sapi di Bandung Belum Juga Turun
-
Belasan Warga Keracunan Usai Makan Daging Sapi yang Ditemukan Mati
-
Penyakit Sapi Gila Merebak, China dan Filipina Tunda Ekspor Daging Dari Kanada
-
Dharma Jaya Berencana Impor 2.500 Ton Daging Sapi sampai Lebaran
-
Cara Membuat Sate Maranggi yang Empuk, Spesial Nikmat Khas Purwakarta
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer
-
Laba Naik Saat Industri Media Berat, Emiten DIGI Bongkar Strategi Rahasianya
-
Aura Research Jadi Senjata Baru DIGI, Andalkan AI untuk Riset hingga Advokasi Bisnis
-
Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas
-
Laba Bersih Arkadia Digital Media (DIGI) Melonjak 45,1% di 2025, Siapkan Ekspansi Bisnis AI
-
RI Siapkan Indonesia Center New York, Bidik Investasi dan Ekspansi Bisnis ke AS
-
Domestik Lesu, SIG Mau Kirim 1 Juta Ton Semen ke Pasar AS Lewat Dermaga Baru
-
Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
-
Selisih Harga Makin Lebar, Migrasi Pertamax ke Pertalite Berpotensi Jadi Risiko Besar bagi APBN
-
Sekarang UMKM Bisa Ekspor ke Eropa Setelah IEU-CEPA Disepakati