- Pemerintah Pakistan memotong gaji anggota DPR dan menangguhkan gaji menteri untuk mengatasi krisis energi akibat perang Teluk.
- Langkah penghematan meliputi peliburan sekolah dua minggu, pekerja WFH, dan penutupan kampus guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
- Ketergantungan impor energi dan penutupan Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga BBM serta dampak signifikan pada sektor ekspor tekstil.
Suara.com - Pemerintah Pakistan mengambil langkah drastis untuk mengatasi krisis energi akibat perang di Teluk yang terus berlangsung sejak 28 Februari lalu dengan memotong gaji anggota DPR dan tidak menggaji para menteri serta staf-staf khusus mereka.
Selain itu sekolah-sekolah di Pakistan akan diliburkan selama dua minggu ke depan. Sementara para pekerja diminta bekerja dari rumah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Kampus-kampus juga ditutup dan para mahasiswa akan kembali belajar online seperti di masa wabah Covid-19.
Para menteri, penasehat dan stafsus menteri juga akan menerima gaji selama dua bulan ke depan. Sementara gaji anggota DPR dipotong 25 persen. Secara umum, pengeluarkan pemerintah Pakistan dipotong 20 persen dalam upaya penghematan besar-besaran akibat konflik di Teluk.
Pekan lalu Pakistan sudah menaikkan harga BBM sebesar 20 persen menjadi 321,17 rupee atau setara dengan Rp19.400 per liter dan memicu kemarahan publik.
Sektor energi Pakistan memang benar-benar bergantung pada impor minyak serta LNG dari Timur Tengah. Ditutupnya Selat Hormuz di Teluk Persia akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran tidak hanya membuat harga minyak dunia baik tapi juga pasokan terbatas.
"Jika krisis ini terus berlangsung, pemerintah harus mencari sumber minyak dan gas lain yang tentu saja harganya lebih tinggi," kata Noman Ali Butt, wakil asosiasi stasiun pengisian BBM Pakistan kepada Channel News Asia.
Tidak hanya itu. Warga Pakistan kini diliputi oleh kepanikan. Mereka berbondong-bondong mengantre di SPBU untuk berebut bahan bakar.
"Bisnis kami akan kesulitan, ongkos transportasi akan naik dan hidup semakin berat saja," kata Patras Maseeh warga Islamabad.
Para ekonom mengatakan langkah pemerintah Pakistan sudah tepat untuk mencegah krisis di dalam negeri.
Baca Juga: Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan
"Jika harga-harga naik dua kali lipat, ada dua hal yang akan terpengaruh: inflasi kebutuhan rumah tangga dan kedua pendapatan pemerintah," terang Ali Salman pimpinan lembaga think tank Policy Research Institute and Market Economy.
Krisis di Teluk juga berdampak besar ke industri tekstil Pakistan yang menjadi tulang punggung pendapatan dari ekspor. Salah satu perusahaan yang sudah merasakan dampaknya adalah Monarchy yang banyak menjual produk mereka ke Timur Tengah.
CEO Monarchy Ali Qureshi mengatakna 70 persen penjualan perusahaannya adalah dari platform online yang pasarnya berasal di Timur Tengah.
"Banyak klien kami yang berasal dari Dubai, Qatar, Oman dan Arab Saudi. Ketika mereka datang ke Pakistan, mereka berbelanja di tempat kami. Tapi kini penerbangan ditutup dan mereka tak bisa ke sini lagi," keluh Ali.
Berita Terkait
-
Pertamina Sebut Dua Kapalnya Masih Terjebak di Selat Hormuz, Gimana Kondisinya?
-
Gegara Perang, Zulhas Klaim RI Kebanjiran Order Pupuk Urea dari Negara Lain
-
Iran Bebas Ekspor Minyak ke China saat 6 kapal Tanker Dibom di Selat Hormuz, Kok Trump Diam Saja?
-
Perang AS-Iran Memanas, Batalion Perempuan Kurdi Siap Angkat Senjata
-
Menghitung Amunisi Perang AS, Israel dan Iran, Siapa Duluan Habis?
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
QRIS dan BI-FAST Jadi Senjata Perkuat UMKM, BI Dorong Pembiayaan Produktif
-
PSSI Harap-Harap Cemas! Klub Belum Kasih Izin, Justin Hubner Absen Bela Timnas Indonesia?
-
Review The Sweater: Pelajaran Sederhana tentang Berbagi dan Peduli
-
Bakal Heboh di Akhir Bulan Ini! Demon Slayer hingga Bloody Smart Siap Tayang di OTT CATCHPLAY+
-
Hadapi Kamboja Malam Ini, Timnas Indonesia Dapat Kabar Buruk John Herdman Putar Otak
-
Persebaya Pecundangi Persija, Bernardo Tavares Bongkar Kunci Sukses Patahkan Taktik Shin Tae-yong
-
AS dan Iran Hentikan Aksi Militer, Harga Minyak Anjlok 5 Persen!
-
4 Shio yang Hidupnya Jadi Lebih Mudah Mulai Hari Ini, Semua Tantangan Terlewati
-
Mojtaba Khamenei Tegas: AS Mau Damai, Suruh Israel Hentikan Serangan ke Lebanon
-
Revolusi Kecoak Gen Z India: Berawal dari Komentar Hakim Jadi Meme dan Gerakan Perlawanan