Bisnis / Ekopol
Senin, 08 Agustus 2022 | 17:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. [Tangkapan layar]

Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akan bergerak melemah. Hal tersebut dikatakan Sri saat konferensi pers usai rapat sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/8/2022).

"Dalam sidang kabinet tadi disampaikan bahwa dunia tahun 2022 diproyeksikan akan mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi sementara inflasinya meningkat tinggi," kata Sri Mulyani.

Dikatakan Sri Mulyani laporan IMF terkait proyeksi ekonomi global terbaru harus memangkas pertumbuhan ekonomi global dari 3,6 persen ke 3,2 persen untuk tahun ini dan tahun depan akan lebih lemah lagi dari 3,6 persen ke 2,9 persen.

"Ini artinya bahwa lingkungan global kita akan menjadi melemah sementara tekanan inflasi justru meningkat," ujarnya.

Sementara dari sisi inflasi, IMF memperkirakan tahun ini akan naik ke 6,6 persen untuk negara maju dan 9,5 persen untuk negara-negara berkembang.

"Nah dengan adanya kenaikan inflasi yang sangat tinggi di negara maju, terjadi reaksi dari sisi kebijakan moneter dan likuiditas yang diperketat dan ini memacu apa yang disebut capital outflow dan volatilitas di sektor keuangan," katanya.

Untuk itu kata dia pemerintah akan terus mengelola kebijakan yang sebaik mungkin dalam setiap merespons dinamika global.

"Di dalam negeri kami bersama pak Gubernur Bank Indonesia di dalam terus meramu kebijakan fiskal dan moneter secara fleksibel. Namun juga pada saat yang sama efektif dan kredibel karena ini adalah suatu persoalan yang kombinasi dari baik kebijakan fiskal maupun moneter, bekerja sama dengan kebijakan struktural," paparnya.

Sementara untuk ekonomi Indonesia tahun 2022 ini, Sri Mulyani menambahkan bahwa saat ini kondisinya sangat cukup baik, dimana pada kuartal II 2022 berhasil tumbuh 5,44 persen.

Baca Juga: Soal Ekonomi Jateng yang Tumbuh 5,66 Persen, Ganjar Klaim Hasil Kerja Kolektif

"Dan ini adalah pertumbuhan yang sangat impresif tinggi karena tahun lalu Kuartal kedua itu pertumbuhannya cukup tinggi yaitu 7,1 persen. Jadi baselinenya sudah tinggi tahun lalu Kuartal kedua dan tahun ini tetap bisa tumbuh di atas 5 persen bahkan di atas perkiraan optimis kami yaitu 5,2 persen ternyata realisasinya 5,44 persen," paparnya.

Selain itu pertumbuhan yang cukup kuat di dalam negeri ini juga harus di jaga terus terutama dari faktor-faktor yang mendukungnya dari sisi domestik karena lingkungan globalnya akan tidak pasti.

"Seperti kita ketahui, faktor dalam negerinya adalah konsumsi dan investasi serta belanja pemerintah," pungkasnya.

Load More