Suara.com - Harga minyak dunia merosot sekitar USD2 pada perdagangan hari Kamis, ketika investor bersiap untuk kemungkinan kembali mulainya ekspor minyak Iran ke pasar global.
Selain itu kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga AS akan melemahkan permintaan bahan bakar.
Mengutip CNBC, Jumat (26/8/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD1,88 atau 1,9 persen menjadi USD99,34 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melorot USD2,37 persen atau 2,5 persen menjadi USD92,52 per barel.
Pembicaraan antara Uni Eropa, Amerika Serikat dan Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 terus berlanjut, dengan Iran mengatakan telah menerima tanggapan dari Amerika Serikat terhadap teks "final" Uni Eropa guna mengaktifkan kembali perjanjian tersebut.
"Tidak ada yang ingin terjun di sini dan berkomitmen pada posisi besar ketika kita bisa disergap oleh berita Iran pada saat tertentu," kata Bob Yawger, Direktur Mizuho, mengutip volume perdagangan yang tipis selama sesi tersebut.
Investor juga menunggu pernyataan yang dijadwalkan pada Jumat oleh Chairman Federal Reserve Jerome Powell di Simposium Kebijakan Ekonomi Fed Kansas City, di Jackson Hole, Wyoming.
"(Pasar) sedikit khawatir tentang apa yang akan dikatakan Jerome Powell tentang kenaikan suku bunga," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.
Powell diperkirakan menjelaskan di mana Fed berdiri dalam perjuangannya untuk mengendalikan inflasi, termasuk informasi tentang kenaikan jalur suku bunga dalam jangka panjang dan pendek.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Kini Sentuh USD 101/Barel
Melemahnya permintaan bensin Amerika menimbulkan kekhawatiran tentang perlambatan aktivitas ekonomi dan mendorong harga lebih rendah.
"Secara keseluruhan, permintaan bensin AS turun paling tajam dalam periode baru-baru ini, pekan lalu, meninggalkan rata-rata empat minggu produk bensin harian yang dipasok 7 persen di bawah periode tahun sebelumnya," menurut data terbaru yang dirilis Badan Informasi Energi.
Membatasi penurunan harga minyak di awal sesi adalah komentar Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, Senin, yang membantu mendorong harga ke level tertinggi tiga pekan, ketika dia menandai kemungkinan bahwa OPEC Plus dapat memangkas produksi.
"Ini mungkin (membuat) peluang pergerakan kembali di bawah USD90 dalam jangka pendek sulit didapat kecuali kesepakatan nuklir dicapai dan selera OPEC Plus untuk pemotongan diuji," kata analis Oanda, Craig Erlam.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
Terkini
-
Wamenkeu Klaim Defisit APBN Masih Aman Meski Ada Perang AS-Israel-Iran
-
PT SMI Klaim Pembiayaan Proyek Masih Aman Meski Ada Konflik Timur Tengah
-
Bidik Investor Kalangan Masyarakat, PT SMI Siapkan Obligasi Rp 8-10 Triliun di 2026
-
Menkeu Purbaya: Anggaran Masih Bisa Bertahan Jika Harga Minyak 92 Dolar AS per Barel
-
Arab Saudi Larang Impor Unggas dan Telur dari Indonesia, Apa Sebab?
-
PT SMI Salurkan Rp 125 Triliun untuk Proyek Strategis Nasional
-
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di atas 1 Persen
-
Pelayaran Selat Hormuz Ditutup, Biaya Logistik Terancam Melonjak
-
Elnusa Petrofin Perkuat Mitigasi Risiko, Pastikan BBM Aman Selama Ramadan
-
Chandra Asri Nyatakan Force Majeure, Konflik di Israel & AS vs Iran Jadi Penyebab