Bisnis / Makro
Selasa, 03 Maret 2026 | 21:09 WIB
Kapal tanker minyak melewati selat hormuz (Reuters/Hamad I Mohammed)
Baca 10 detik
  • Eskalasi konflik di Selat Hormuz berpotensi mengguncang logistik global, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.
  • Gangguan navigasi dan pengalihan rute kapal mengakibatkan kenaikan premi asuransi serta kemacetan pelabuhan.
  • Transportasi udara terdampak peningkatan transit waktu, konsumsi bahan bakar, dan potensi kenaikan tarif kargo udara.

Suara.com - Eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz dinilai berpotensi memicu guncangan besar terhadap biaya logistik global dan stabilitas rantai pasok dunia. Organisasi logistik internasional, International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), menyoroti risiko sistemik yang bisa berdampak pada inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berbagai negara.

Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan situasi di Timur Tengah saat ini sangat dinamis dan fluktuatif, sehingga berisiko memengaruhi operasional pelayaran dan penerbangan kargo secara global.

"Gangguan navigasi, pengalihan rute kapal dan pesawat, serta lonjakan premi asuransi berpotensi menciptakan tekanan biaya logistik global dalam waktu singkat," ujarnya dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menyalurkan sekitar 20–30 persen pasokan minyak global, sekaligus penghubung penting jalur kontainer antara kawasan Timur dan Barat.

Selat Hormuz (Gemini AI)

Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu efek berantai pada sistem perdagangan internasional.

Yukki menjelaskan, terdapat tiga dampak langsung yang perlu diwaspadai pelaku usaha logistik global maupun nasional.

Pertama, pada sektor transportasi laut.  Meningkatnya risiko keamanan mendorong sejumlah kapal mengubah rute, menghentikan pelayaran, bahkan berbalik arah. Kondisi tersebut berpotensi memicu kemacetan di pelabuhan alternatif akibat pengalihan arus kapal, sekaligus mendorong kenaikan war-risk premium dan berbagai surcharge operasional.

Kedua, pada transportasi udara. Pembatasan serta pengalihan jalur penerbangan membuat waktu transit lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat. Dampaknya, kapasitas angkut bisa terbatas dan tarif kargo udara berpotensi naik.

Ketiga, pada rantai pasok global secara keseluruhan. Gangguan distribusi energi, petrokimia, dan industri manufaktur dinilai bisa mendorong kenaikan biaya angkut global, ketidakpastian kontrak, hingga keterlambatan pengiriman yang berdampak pada sektor ritel dan pangan.

Baca Juga: Chandra Asri Nyatakan Force Majeure, Konflik di Israel & AS vs Iran Jadi Penyebab

“Konflik ini berpotensi menjadi shock besar dalam rantai pasok global dengan dampak lanjutan terhadap inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berbagai negara,” ungkap Yukki.

FIATA menilai pelaku usaha logistik perlu segera beradaptasi dengan memperkuat manajemen risiko untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian global.

"Para pelaku usaha di sektor ini perlu melalukan penguatan manajemen risiko, termasuk meningkatkan kewaspadaan operasional, memastikan perlindungan dan negosiasi premi asuransi serta kejelasan kontrak, memperkuat komunikasi dengan pelanggan, melakukan koordinasi internasional, serta menyiapkan alternatif rute dan solusi multimoda. Hal ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi global," pungkas Yukki.

Load More