- PT Chandra Asri Pacific menyatakan force majeure pada 3 Maret 2026 karena gangguan suplai bahan baku dari Selat Hormuz akibat konflik.
- Chandra Asri menyesuaikan tingkat operasional pabrik sebagai langkah pencegahan terhadap ketidakpastian pasokan bahan baku global tersebut.
- Perusahaan ini menandatangani kesepakatan investasi $200 juta dengan Danantara dan INA untuk proyek CA-EDC di Cilegon yang ditargetkan beroperasi 2027.
Suara.com - Produsen petrokimia PT Chandra Asri Pacific pada Selasa (3/3/2026) menyatakan status force majeure, dengan alasan gangguan pada pengiriman bahan baku melalui Selat Hormuz menyusul pecahnya perang antara Israel dan Amerika Serikat vs Iran di Teluk.
PT Chandra Asri Pacific menginformasikan kepdaa pelanggan mengenai gangguan ini melalui pemberitahuan tertanggal 2 Maret, demikian dilansir dari Bloomberg News. Perusahaan juga mengatakan durasi force majeure ini masih belum pasti.
“Kami memantau secara saksama situasi yang berkembang antara Amerika Serikat dan Iran dan telah menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” kata perusahaan dalam pernyataan resminya.
“Sebagai bagian dari langkah-langkah ini, kami akan menyesuaikan tingkat operasional (run rates) di pabrik-pabrik kami," imbuh perusahaan milik Konglomerat Prajogo Pangestu tersebut.
Konflik antara Iran, Israel, dan AS telah mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz, dengan sangat sedikit kapal tanker minyak yang melakukan transit sejak terjadinya serangan di wilayah tersebut. Sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas LNG dunia melewati jalur perairan sempit tersebut.
Chandra Asri mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang memproduksi olefin dan polyolefin, dengan kilan berkapasitas 237.000 barel per hari dan naphtha cracker berkapasitas 0,9 juta metrik ton per tahun.
Teken Kerja Sama dengan Danantara
Pengumuman ini disampaikan di hari yang sama dengan penandatanganan kepakatan antara Chandra Asri dengan Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) terkait produksi Caustic Soda dan Ethylene Dichloride (EDC) domestik.
Kesepakatan itu merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani ketiga pihak, di mana Danantara Indonesia dan INA merupakan investor strategis dalam proyek tersebut.
Baca Juga: Kisah Para Sopir Pejabat Iran dan Bagaimana Mossad Melacak Ayatollah Ali Khamenei
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan perjanjian itu menegaskan komitmen Danantara untuk memperkuat industri-industri strategis nasional yang memberikan nilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kolaborasi ini tidak hanya sebagai respon terhadap tantangan ketergantungan impor, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk mempercepat hilirisasi, kunci penggerak ekonomi Indonesia," ujar Pandu.
Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA Eddy Porwanto mengatakan investasi itu mencerminkan mandat investasi jangka panjang INA untuk menggerakkan modal pada sektor-sektor yang menjadi prioritas nasional.
Ia mengatakan kolaborasi itu bertujuan untuk membangun fondasi permodalan yang kuat untuk mendukung pengembangan kapasitas industri bahan baku strategis secara berkelanjutan.
"Upaya ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkuat daya saing dan ketahanan industri nasional," ujar Eddy.
Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra berharap proyek CA-EDC tersebut dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan impor bahan kimia strategis, memperkuat ketahanan rantai pasok nasional serta mendukung hilirisasi.
Berita Terkait
-
Selat Hormuz Membara, Bahlil Putar Haluan Impor Minyak ke Amerika
-
OJK Keluarkan 3 Jurus Hadapi Ancaman Perang AS-Iran
-
Pengamat UGM Soroti Risiko Cadangan BBM 20 Hari di Tengah Perang AS- Iran
-
Perang AS & Israel vs Iran Kunci Selat Hormuz, Krisis BBM di Indonesia?
-
Garda Revolusi Iran Disebut Tutup Selat Hormuz, Mengapa Dunia Harus Panik?
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar