Suara.com - PLN Indonesia Power Mrica PGU terus mewujudkan komitmennya dalam aspek lingkungan dan sosial di sekitar pembangkit, salah satunya adalah menjaga kualitas air pada aliran Sungai Serayu dengan memberdayakan masyarakat sekitar.
Tak hanya penting bagi keandalan pembangkit dimana air Sungai Serayu digunakan sebagai penggerak turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica, namun juga untuk menjaga ekosistem di Sungai Serayu.
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK RI, Sigit Reliantoro mengatakan Kampung Kopi Konservasi binaan PLN IP Mrica PGU ini merupakan salah satu contoh implemestasi konsep Creating Shared Value atau CSV dimana konsep ini akan menguntungkan bagi masyarakat dan korporasi.
“Ini merupakan salah satu contoh implementasi dari konsep Creating Shared Value, ada upaya win-win solution dari mayarakat dan perusahaan, bagi masyarakat ini merupakan opsi yang tepat dalam mengembangkan pencaharian baru dan tentunya yang paling penting lagi untuk melindungi fungsi setiap komponen DAS Serayu dalam mencegah erosi, sedangkan bagi PLN IP sendiri tentunya untuk jangka panjang keberlanjutan PLTA Mrica yang dalam pengoperasiannya memanfaatkan air dari aliran sungai serayu,” ujar Sigit ditulis Kamis (13/7/2023).
Senada yang disampaikan Sigit Reliantoro, Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengatakan PLN IP terus lakukan inovasi salah satunya melalui program CSR atau TJSL dengan menciptakan CSV bagi korporasi maupun masyarakat sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan ekonomi, sosial, kesehatan dan lingkungan.
“Setiap program TJSL yang dijalankan oleh PLN Indonesia Power diharapkan dapat menciptakan Creating Shared Value (CSV), sehingga dapat berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ujar Edwin.
Diketahui PLN IP Mrica PGU telah melakukan pelatihan dan pendampingan hingga akhirnya bisa menjadikan Desa Pegundungan sebagai Kampung Kopi Konservasi yang merupakan pengembangan dari Program Sekolah Lapangan yang diinisiasi sejak tahun 2009.
Selain untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat, hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga kualitas air dan sedimentasi karena diketahui Desa Pegundungan merupakan salah satu lokasi yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan laju sedimentasi Sungai Serayu.
Senior Manager Mrica PGU, PS Kuncoro menjelaskan program ini dilakukan secara bertahap dan melalui banyak penelitian sebelum pada akhirnya terwujud Kampung Kopi Konservasi yang berguna bagi lingkungan dan juga kesejahteraan masyarakat.
“Sebelum adanya program kampung kopi konservasi, di Desa Pegundungan ini rata-rata lahannya digunakan untuk menanam kentang dan sayuran, kita tau bahwa ini sangat berpotensi menambah laju sedimentasi,” ujar PS Kuncoro.
“Dari studi yang kita lakukan dengan menggandeng para ahli di bidangnya, Mrica PGU bergerak memberikan pelatihan dan pendampingan hingga akhirnya terwujud Desa Pegundungan sebagai Kampung Kopi Konservasi yang merupakan pengembangan dari Program Sekolah Lapangan yang diinisiasi sejak tahun 2009,” lanjut Kuncoro.
Terletak di ketinggian 1300-1500 mdpl, Desa Pegundungan menghasilkan kopi dengan brand Kopi Senggani dengan jenis varian unggulan yaitu arabika yang memiliki cita rasa yang khas dan excellent.
Kopi Senggani pun kini dikenal sebagai Kopi Konservasi, yaitu kopi yang dihasilkan dari budidaya kopi dengan mengutamakan pelestarian atau perlindungan kawasan yang diterapkan oleh petani.
Selain mampu mengurangi erosi tanah yang mengakibatkan sedimentasi di waduk Mrica, konsep ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomi bagi petani sekaligus sebagai tempat edukasi budidaya kopi berbasis agro eduwisata di Banjarnegara, Jawa Tengah.
Melihat keajaiban yang ada di Desa Pegundungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hadir dalam kegiatan panen kopi dan juga untuk mengetahui bagaimana Kopi Senggani bisa lahir dari tangan para petani kopi di Desa Pegundungan.
Panen Kopi ini dilakukan diluasan kebun kopi seluas 44 Ha dengan melibatkan anggota Kelompok Tani Bangkit dengan jumlah 99 orang yang menghasilkan kopi sebanyak 30ton yang akan berlangsung hingga bulan Agustus nanti.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
-
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun
-
60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha
-
Produk Tembakau Alternatif Ramai Digunakan, Edukasi Jadi Sorotan
-
Konsep Baru Transmigrasi, Mentrans Dorong Apartemen dan Rumah Susun untuk Pendatang
-
Pengendalian Industri Tembakau Picu Menjamurnya Rokok Ilegal
-
Perempuan Jadi Korban Jika Industri Tembakau Tertekan
-
Pemadaman Bergilir Akibat Pemangkasan RKAB Batubara oleh Kementerian ESDM
-
Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal