Suara.com - Untuk mendukung agenda Keketuaan ASEAN 2023, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) bekerja sama dengan ASEAN Center for Energy (ACE), Council of Palm Oil Producing Countries (CPOC), School of Business and Management – Institut Teknologi Bandung (SBM – ITB) akan menyelenggarakan seminar internasional yang berjudul "Integrating Biofuels as the Main Pillar of ASEAN Renewable Energy Development for a Resilient and Sustainable Just Energy Transition."
Acara ini merupakan side event Keketuaan ASEAN Bidang Energi di bawah koordinasi Senior Official Energy (BUMN) Leader Keketuaan ASEAN 2023. Event ini akan dilaksanakan di Hotel Westin Jakarta pada tanggal 2 Agustus 2023.
Penyelenggaraan event ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023, yang berkomitmen untuk mendorong tercapainya agenda-agenda krusial di berbagai sektor, termasuk energi.
Fokus utamanya adalah mempromosikan transisi energi yang berkelanjutan, memperkuat kemandirian energi, dan meningkatkan ketahanan energi di kawasan.
Event seminar internasional tersebut secara spesifik ingin memberikan masukan dalam pengembangan Peta Jalan Energi Terbarukan ASEAN Jangka Panjang (ASEAN Long-Term Renewable Energy Roadmap), sebagai langkah strategis dalam memajukan transisi energi di Indonesia dan ASEAN.
Terkait dengan hal tersebut, IPOSS bersama dengan SBM - ITB telah melakukan studi kebijakan "NAVIGATING THE FUTURE: Opportunities, Challenges and Strategies of Biofuel Development in South East Asia" yang juga akan diluncurkan pada event tersebut.
IPOSS dan SBM ITB memandang bahwa Biofuel menonjol sebagai alternatif yang penting bagi Indonesia dan ASEAN dalam mencapai tujuan energi terbarukan.
Pengalaman luas di Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara ASEAN lainnya telah membuktikan kemampuan biofuel sebagai solusi berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan energi dan mendukung pembangunan ekonomi.
Seminar ini akan mengundang pembicara dari kalangan pengambil kebijakan, pelaku bisnis, dan Pakar Internasional dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia untuk berdialog dengan investor dan komunitas bisnis, think tank internasional, akademisi, dan media.
Baca Juga: Deretan Pemain ASEAN Korban Ketatnya Liga Korsel, Terbaru Jagoan Timnas Malaysia
Seminar ini akan menyajikan tiga topik diskusi yang mendalam, yang bertujuan untuk melakukan dialog konstruktif, yaitu:
- Mengungkap Potensi Bahan Bakar Nabati: Menjelajahi Atributnya yang Lebih Bersih, Lebih Hijau, dan Berkelanjutan untuk Transisi Energi ASEAN.
- Bahan Bakar Nabati sebagai Kontributor Ekonomi Pembangunan: Mengkaji Dampaknya terhadap Lanskap Ekonomi ASEAN.
- Mendorong Masa Depan Berkelanjutan ASEAN: Menjelajahi Peran Kolaboratif Bahan Bakar Nabati dalam Pembangunan Energi
Diskusi-diskusi dalam seminar ini diharapkan akan menggali potensi signifikan dari biofuel, menyoroti karakteristiknya yang lebih bersih dan lebih hijau yang menawarkan solusi berkelanjutan untuk transisi energi di ASEAN.
Juga akan menganalisis bagaimana pengembangan biofuel dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran di kawasan, membentuk lingkungan kolaboratif bagi negara-negara ASEAN untuk bersama-sama memajukan inisiatif energi berkelanjutan.
Terkait dengan alasan mengapa Biofuel penting sebagai alternatif energi terbarukan, Vice Chairman IPOSS Sofyan Djalil mengatakan, Biofuel menawarkan pengganti bahan bakar fosil konvensional yang lebih bersih dan lebih hijau, yang mengarah pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan polusi udara yang signifikan.
"Dengan mengembangkan biofuel, kita secara aktif berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim dan meningkatkan kualitas udara, membuka jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Selain itu, biofuel dapat dihasilkan dari limbah organik, termasuk residu pertanian, limbah makanan, dan sumber organik lain yang tersedia. Karena Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya memiliki cadangan limbah organik yang besar, peluang untuk pengembangan biofuel sangat besar,” kata Sofyan Djalil ditulis Jumat (21/7/2023).
Selanjutnya terkait dengan alasan utama mengapa ASEAN berpeluang mengembangkan Biofuel sebagai alternatif yang berkelanjutan untuk mendukung transisi energi di ASEAN.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite
-
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 9 Mei 2026: Antam Turun, UBS dan Galeri24 Stabil
-
Pertamina-Departemen Energi Amerika Serikat Bahas Penguatan Pasokan Energi & Infrastruktur Strategis