Suara.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kondisi ekonomi tahun 2024 hingga tahun depan masih bergejolak dan bergelombang, tetapi gelombangnya tidak separah pada 2 atau 3 tahun ke belakang.
Hal tersebut dikatakan Perry dalam sebuah diskusi 'Stabilitas Moneter di Tengah Dinamika Ekonomi 2024' di Jakarta pada Kamis (1/2/2024).
"This is a life of global. Tapi kita harus bersyukur karena dinamika dan gelombangnya tidak separah dengan 2 atau 3 tahun kebelakang," ungkap Perry.
Perry menjelaskan gelombang itu terjadi karena kondisi ekonomi hampir setiap negara mengalami fragmantasi. Selain itu Pemilu yang terjadi di 54 negara menambah ketidakpastian.
"Ekonomi Amerika turun, Tiongkok turun, India masih naik, Indonesia bersyukur karena salah satu ekonomi terbaik di dunia," katanya.
Perry menambahkan kondisi ekonomi global mengalami penurunan pasca Covid-19, dimana tahun lalu hanya tumbuh 3 persen dan 2024 diproyek turun kembali me jadi 2,8 persen dan 2025 naik kembali ke 3 persen. "Itulah gelombangnya," kata Perry.
Menghadapi 2024, BI mengaku tetap optimis bahwa capaian akan lebih baik, namun tetap waspada. Komitmen untuk memperkuat bauran kebijakan juga akan terus dilakukan di tahun ini.
"Komitmen kami untuk terus memperkuat, koordinasi, sinergi, kolaborasi, karena hanya itulah kita bisa melangkah ke depan dengan optimis dan waspada," pungkasnya.
Baca Juga: PP Muhammadiyah Puji Capaian Timnas Indonesia: Shin Tae-yong Layak Dipertahankan!
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Canggihnya Ambulans Universitas Sanata Dharma, Multifungsi dan Bisa untuk Operasi Ringan
-
Harga Avtur Turun 10 Persen Mulai 1 Juni
-
Bank Indonesia Bongkar Penyebab Rupiah Terus Tertekan
-
Kemenperin Minta Kaji Ulang Kemasan Polos Produk Tembakau
-
Bisnis Logistik Ikut Kecipratan Berkah Pariwisata Bali
-
LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan hingga September 2026, Apa Efeknya?
-
Pertamax Turbo Naik, Harga BBM Pertamax Tetap Dibanderol Rp 12.300
-
Airlangga Klaim Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Ganggu Ambisi RI Jadi Raja Kendaraan Listrik
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN