Suara.com - PT Mizuho Leasing Indonesia Tbk (VRNA) mengumumkan penurunan laba bersih yang signifikan pada periode kuartal III 2024. Laba perusahaan hanya mencapai Rp8 miliar, turun jauh 82 persen di bawah capaian sebelumnya yang mencapai Rp47 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja kurang menggembirakan ini disebabkan oleh peningkatan beban operasional yang menekan margin keuntungan perusahaan.
"Laba bersih perusahaan hingga kuartal III 2024 mencapai Rp8 miliar," kata Direktur Mizuho Leasing Indonesia Andi Harjono dalam public expose di Jakarta, Jumat (27/12/2024).
pasalnya, emiten leasing yang sebelumnya bernama PT Verena Multi Finance Tbk itu mencatat beban operasional sebesar Rp340 miliar atau naik 41 persen dari Rp241 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian perseroan mengantongi pendapatan Rp345 miliar dikuartal III 2024, naik dari posisi Rp289 miliar di September 2023.
Sementara dari sisi aset VRNA mencatatkan pertumbuhan yang signifikan hingga sembilan bulan pertama tahun 2024. Total aset perusahaan mencapai Rp3,09 triliun, meningkat dari periode sebelumnya sebesar Rp2,7 triliun.
Dari sisi liabilitas, VRNA tercatat memiliki Rp2,3 triliun di kuartal III 2024 dari Rp2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Disisi lain Andi juga menyoroti soal kenaikan PPN menjadi 12 persen yang diperkirakan akan semakin menekan kinerja industri pembiayaan.
"Industri rada khawatir, karena PPN dan pajak Onsen akan berdampak penjualan mobil, otomatis berdampak pada industri pembiayaan mobil," kata Andi.
Baca Juga: Mizuho Leasing Ungkap Kekhawatiran Kenaikan PPN 12 Persen dan Pajak Opsen
Pihaknya pun bersikap konservatif atas situasi ini pada 2025. Menurutnya kenaikan tarif PPN dapat berdampak pada penurunan minat konsumen untuk membeli mobil bekas, dimana segemen ini menjadi salah satu core bisnis Mizuho Leasing Indonesia.
Alhasil, konsumen cenderung sensitif terhadap kenaikan harga, terutama dalam segmen pasar yang bergantung pada kemampuan finansial menengah ke bawah.
"Kami bersikap konservatif saja untuk tahun depan," ucap Andi.
Meskipun pemerintah telah memberikan 'obat penawar' demi meredam gejolak kenaikan PPN 12 persen, Andi menilai hal tersebut perlu untuk dilihat kedepannya.
"Mesti dilihat nanti eksekusinya," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Promo JSM Superindo Terbaru Minggu Ini 22-24 Mei 21026, Daging Ayam Diskon 40 Persen!
-
Dari Rp34 Miliar Tinggal Rp15,3 Miliar, Trader Ini Jadi Korban Jumat Berdarah Kripto
-
Lalamove Masuk Jerman, Bidik 3,4 Juta UKM dengan Logistik On-Demand
-
Purbaya Klaim Tahu Apa yang Terjadi di Dugaan Kasus Korupsi Dirjen Bea Cukai
-
Sosok di Balik Danantara Sumberdaya Indonesia, Direksinya Orang Asing
-
Cara Investasi SBN untuk Pemula Saat Suku Bunga Naik dan Berapa Minimal Belinya?
-
Ini Alasan Hulu Migas Dikecualikan dari Skema Ekspor DSI
-
Rupiah Melemah dan Suku Bunga Naik, Ini 3 Tipe Investasi untuk Pemula Amankan Tabungan
-
Profil Luke Thomas Mahony, WN Australia Eks Petinggi Vale Jadi Dirut PT DSI
-
Ekspor Mineral Disentralisasi ke Danantara, Bahlil Klaim Akhiri Modus Transfer Pricing