- Konsolidasi BUMN kurangi jumlah perusahaan dan kursi direksi demi efisiensi.
- 15 BUMN asuransi akan diciutkan menjadi 3 entitas besar pada tahun 2026.
- Danantara jamin tidak ada PHK karyawan; staf akan diserap ke entitas hasil merger.
Suara.com - Gelombang efisiensi besar-besaran di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera dimulai. Badan Pengelola (BP) Danantara memastikan akan melakukan "diet ketat" terhadap jumlah entitas perusahaan pelat merah, termasuk di sektor asuransi, yang otomatis bakal memangkas jumlah jabatan direksi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa proses perampingan ini ditargetkan tuntas tahun ini. Fokus utamanya adalah mengubah ratusan perusahaan kecil yang tidak efisien menjadi entitas raksasa yang lebih kompetitif.
"Karena jumlah perusahaannya berkurang, tentu jumlah [direksi] akan berkurang. Supaya lebih efisien," ujar Dony usai gelaran Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Sektor asuransi menjadi sorotan utama. Saat ini, terdapat sekitar 15 perusahaan asuransi milik negara yang dinilai terlalu terfragmentasi dan boros struktur. Danantara berencana mengerucutkan belasan perusahaan tersebut menjadi hanya tiga entitas utama pada tahun 2026.
Tiga raksasa baru ini nantinya akan memiliki spesialisasi khusus, asuransi jiwa, asuransi umum dan asuransi kredit
"Kita punya sekitar 15 perusahaan asuransi BUMN dan tahun 2026 ini akan kita konsolidasi. Kita dorong nanti hanya menjadi tiga perusahaan saja," tambah Dony.
Tak hanya asuransi langsung, sektor reasuransi pun tak luput dari radar. Tiga pemain besar yakni Nasional Reasuransi Indonesia (NasRe), Reasuransi Indonesia Utama (RIU), dan Tugu Reasuransi Indonesia masuk dalam agenda penggabungan.
Meski jajaran petinggi alias direksi bakal berkurang drastis, Dony memberikan jaminan bagi para karyawan level staf. Ia memastikan tidak akan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akibat merger ini.
Skema yang disiapkan adalah penyerapan seluruh tenaga kerja ke dalam entitas hasil konsolidasi. Strategi ini diambil agar perusahaan memiliki skala usaha (size) yang lebih besar, pengelolaan risiko yang terkontrol, dan tidak lagi membebani negara dengan kerugian.
Baca Juga: Askrindo dan IFG Sediakan Ribuan Tiket Mudik Gratis dari Pulau Jawa Hingga Sumatra
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Prabowo Minta Purbaya Ganti Pimpinan Bea Cukai, Singgung Kasus Era Orde Baru
-
Pemerintah Beri Insentif Pajak 0 Persen Bagi Eksportir SDA, Ini Syaratnya
-
Sentimen BUMN Makelar Eskpor Bikin IHSG Kacau Balau, Ambruk Lagi 0,82%
-
Devisa Hasil Ekspor SDA Wajib Ditempatkan di Bank Himbara, Ini Skemanya
-
Mulai 1 Juni, BUMN Siap Jadi Makelar Ekspor SDA
-
IHSG Ditutup di Zona Merah, BRI Sekuritas Berikan Peringatan Keras
-
Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah
-
Petani Sawit Protes Badan Ekspor, Mirip Monopoli Cengkeh Era Soeharto
-
IHSG Anjlok Usai Kenaikan BI-Rate, Pengamat Ungkap Peluang Technical Rebound
-
Apa Itu Planogram? Viral Penataan Produk Kopdes Merah Putih Dikritik Tak Menarik