Suara.com - Departemen Luar Negeri AS telah memberi tahu Kongres tentang rencana penjualan senjata senilai 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 129 triliun ke Israel.
Pengiriman senjata, yang memerlukan persetujuan dari komite DPR dan Senat, termasuk rudal, peluru, dan amunisi lainnya.
Langkah tersebut dilakukan hanya sekitar dua minggu sebelum Presiden Joe Biden meninggalkan jabatannya.
Pada bulan Agustus, AS menyetujui penjualan jet tempur dan peralatan militer lainnya senilai 20 miliar dollar AS ke Israel.
Pengiriman terbaru yang direncanakan berisi rudal udara-ke-udara, rudal Hellfire, peluru artileri, dan bom, kata pejabat AS tersebut.
Seorang sumber yang mengetahui penjualan tersebut mengatakan bahwa Presiden telah menjelaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela warganya, sesuai dengan hukum internasional dan hukum humaniter internasional, dan untuk mencegah agresi dari Iran dan organisasi proksinya.
"Kami akan terus menyediakan kemampuan yang diperlukan untuk pertahanan Israel," kata sumber tersebut dikutip BBC, Senin (6/1/2025).
Biden sering menggambarkan dukungan AS untuk Israel sebagai dukungan yang sangat kuat. AS sejauh ini merupakan pemasok senjata terbesar bagi Israel, setelah membantunya membangun salah satu militer paling canggih secara teknologi di dunia.
Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), AS menyumbang 69% dari impor senjata konvensional utama Israel antara tahun 2019 dan 2023.
Baca Juga: Inggris Tangguhkan 30 Lisensi Ekspor Senjata ke Israel, Netanyahu Berang
Pada bulan Mei 2024, AS mengonfirmasi telah menghentikan satu pengiriman bom seberat 2.000 pon dan 500 pon karena kekhawatiran Israel akan melanjutkan operasi darat besar-besaran di kota Rafah di Gaza selatan.
Namun Biden segera menghadapi reaksi keras dari Partai Republik di Washington dan dari Netanyahu yang tampaknya membandingkannya dengan "embargo senjata".
Pengiriman yang direncanakan tersebut merupakan salah satu dari sejumlah langkah yang diambil oleh pemerintahan Biden dalam beberapa minggu terakhir, saat presiden yang akan lengser tersebut berupaya untuk menopang warisannya.
Ini kemungkinan juga akan menjadi penjualan senjata terakhir yang direncanakan ke Israel sebelum ia meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2025, saat penggantinya Donald Trump dilantik.
Presiden terpilih tersebut sebelumnya telah berbicara tentang mengakhiri konflik asing, dan mengurangi keterlibatan AS, termasuk selama upaya pemilihannya kembali.
Trump telah memposisikan dirinya sebagai pendukung setia Israel, tetapi telah mendesak sekutu Amerika tersebut untuk segera menyelesaikan operasi militernya di Gaza.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Iran Berencana Terapkan 'Pajak Keamanan' di Selat Hormuz, Satu Kapal Rp33 Miliar
-
DJP Catat 9,1 Juta SPT Masuk, Aktivasi Coretax Tembus 16,9 Juta
-
Menkeu Purbaya Lantik Robert Leonard Marbun Sebagai Sekjen Kemenkeu
-
Menteri Airlangga Menghadap Presiden Prabowo Bahas Harga BBM dan WFH
-
IHSG Melemah di Sesi I ke Level 7.101, Tekanan Jual Masih Dominan
-
Purbaya Lantik Robert Marbun Jadi Sekjen Kemenkeu, Gantikan Heru Pambudi
-
KPPU Sebut Kesepakatan Bunga Pinjol 0,8 Persen Rugikan Konsumen, Ternyata Bukan Arahan OJK
-
Mudik 2026, SIG Berangkatkan Ribuan Orang dan Salurkan Bantuan
-
Harga Emas Pegadaian Jumat Ini Stagnan, Cek Perbandingan Galeri 24 dan UBS
-
KPPU Hukum 97 Pinjol, Denda Fantastis Rp755 Miliar Menanti