Suara.com - Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kondisi ekonomi global kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, semakin agresif dalam kebijakan perdagangannya. Hal ini yang membuat masa depan nilai tukar rupiah Indonesia masih suram dan penuh ketidakpastian.
Sejak terpilih sebagai Presiden, Trump terus menunjukkan sikap proteksionis yang kini berujung pada perang dagang besar-besaran.
Pada Januari lalu, Trump memulai ketegangan dengan Tiongkok yang kini semakin meruncing. Tak hanya itu, pada Februari ini, kebijakan perang dagangnya juga diperluas ke Eropa, Kanada, dan Meksiko. Langkah ini semakin memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia.
"Kemudian Trump juga sudah mengancam terhadap negara-negara anggota BRICS yang tidak menggunakan mata uang dolar dalam perdagangan internasional. Ini akan mendapatkan denda sebesar 100 persen," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (2/2/2025).
Dia melanjutkan, dalam pertemuan di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump menyerukan agar Bank Sentral Global menurunkan suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, kenyataannya, pada hari Kamis lalu, The Federal Reserve (The Fed) tetap mempertahankan suku bunga dan tidak mengindahkan seruan Trump.
"Artinya apa? Bahwa ucapan-ucapan dari Trump pun juga diindahkan oleh Bank Sentral Amerika, karena kita melihat bahwa Bank Sentral Amerika Independent tidak boleh diberi adanya intervensi ya dari pemerintahan, terutama adalah pemerintahan Trump," beber dia.
Ketidakpastian global ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah. Hal ini juga memicu sejumlah kelompok peretas atau hacker meretas nilai tukar rupiah di Google dari Rp16.304 menjadi Rp8.000 per dolar AS.
"Dan ini kemungkinan besar hanya sesaat, di hari Senin sudah kembali normal, ya bisa saja dalam perdagangan di hari Senin rupiah kembali mengalami pelemahan," ungkap Ibrahim.
Baca Juga: Pengamat Curigai Sesatnya Kurs Rupiah di Google Ulah Hacker yang Kecewa pada Prabowo
Sebelumnya, publik dibuat sesat dan gaduh oleh Google pada 1 Februari 2025 kemarin. Pasalnya, ada sesuatu hal yang janggal, di mana kurs rupiah menguat tajam beratus persen menjadi di bawah Rp10.000 per 1 USD.
Dalam tampilan google tertulis bahwa nilai tukar atau kurs rupiah Rp8.170,65 per dolar Amerika Serikat (AS).
Padahal, dalam penutupan perdagangan pada Jumat (31/1/2025), nilai tukar rupiah masih berada pada level Rp16.305 per dolar AS.
Ibrahim menilai, bahwa fenomena ini merupakan ulah para hacker yang kecewa terhadap pemerintahan Prabowo.
"Karena kita melihat bahwa bisa saja para hacker ini adalah orang yang kecewa dengan pemerintahan saat ini. Mereka ingin menunjukkan bahwa seandainya pertumbuhan ekonomi tahun 2025 mencapai 8 persen, maka rupiah bisa berada di level Rp8.000 per dolar AS," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok
-
Tak Perlu Pusing, Belanja di China Bisa Bayar Pakai GoPay
-
Purbaya Janjikan Kredit Bunga Rendah ke Industri Tekstil, Maksimal 6 Persen
-
IHSG Masih Gagah Menguat, Betah di Level 7.000