Suara.com - Swiss nampaknya membuat strategi baru untuk meningkatkan devisa negaranya. Apalagi, dunia saat ini sedang dalam kondisi yang bergejolak.
Salah satunya perubahan iklim, dan ketakutan akan resesi ekonomi bisa terjadi pada setiap negara. Namun, bagi sebagian orang, keadaan itu tidak berpengaruh pada orang kaya.
Meskipun terjadi kekacauan global, jumlah miliarder di dunia terus bertambah dan kekayaan pribadi masing-masing dari mereka juga meningkat.
Meningkatnya tren untuk pengalaman kemewahan tertinggi adalah petunjuk tentang apa yang dilakukan orang-orang yang sangat kaya dengan uang mereka. Khususnya bagi industri pariwisata, ini adalah sebuah peluang.
Di Swiss, yang telah lama dikenal sebagai negara yang mewah, jumlah hotel bintang lima meningkat lebih cepat daripada kategori lainnya mengincar orang kaya di dunia untuk berlibur. Apalagi, Swiss berbebenah serta merenovasi tenmpat wisatanya baik hotel maupu lainnya.
Salah satunya menawarkan spa mewah, restoran gourmet, dan suite desainer dengan pemandangan pegunungan Alpen yang indah. Beberapa menawarkan "pelayan ski" untuk mengantar tamu ke dan dari lereng, membawa ski, dan bahkan membantu mengenakan sepatu bot mereka.
Hal itu dilakukan untuk menarik orang kaya di seluruh dunia untuk berlibur di negaranya. Untuk itu, Swiss menargatkan beberapa negara untuk menjadi pasar utama dalam memboyong turis kaya tersebut. Dilansir dari BBC, salah satunya adalah Amerika Serikat, Chinga, serta Asia Tenggara.
Para pengusaha perhotelan Swiss mengatakan, tamu Amerika khususnya mengharapkan layanan bintang lima penuh, termasuk layanan kamar 24 jam, sehingga mereka dapat memesan makanan di tengah malam.
Sementara itu, Tiongkok dan India adalah negara berkembang, di mana kelompok pertama yang bepergian dari kedua negara tersebut termasuk yang terkaya.
Baca Juga: 500 Orang Terkaya di Dunia Kehilangan Hartanya Rp 1.754 Triliun Imbas Deepseek
Berdasarkan data dari pemerintah Swiss , abhwa orang kaya yang datang menginap di hotel bintang lima mencapai sekitar 8%. Tamu di sana menyumbang setidaknya 25% dari total pendapatan Swiss dari pariwisata.
"Signifikansi ekonomi yang tinggi membenarkan komitmen terhadap tamu-tamu mewah," kata Markus Berger dari Switzerland Tourism.
Monika Bandi, yang memimpin Unit Penelitian Pariwisata di Pusat Pengembangan Regional Universitas Bern, melihat upaya Swiss untuk menarik tamu kelas atas sebagai tindakan penyeimbangan yang baik. Ini tentang "kuantitas versus kualitas", tandasnya.
Berita Terkait
-
Johan Manzambi Yakin Timnas Swiss Jadi Kuda Hitam Piala Dunia 2026, Meski Sama Sekali Tak Dijagokan
-
Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk
-
Profil Timnas Swiss: Red Devils Bisa Jadi Mimpi Buruk di Piala Dunia 2026
-
Mengapa Purbaya Lembek soal Pajak ke Orang Super Kaya di RI?
-
Heboh PPN Jalan Tol dan Tarik Pajak Orang Kaya, Purbaya: Itu Masih Rezim Lama
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
3 Kapal Tanker Raksasa 'Bebas' Lewati Selat Hormuz Hari Ini, Pertanda Baik?
-
BUMN Fasilitasi UMKM, Tambah Akses Pasar untuk Produk Lokal
-
Aliran Dana Asing ke Indonesia Ditentukan Pengumuman MSCI Besok
-
Pasar Properti Asia Tenggara dan Australia Stabil di Tengah Tantangan Ekonomi Global
-
Bos Danantara Nilai IHSG Goyah Karena Rupiah Lemes, Faktor MSCI Kurang Signifikan
-
Meski Sudah Deal, Bahlil Akui Impor Minyak Mentah dari Rusia Terhambat
-
Purbaya Incar Pajak Ecommerce Usai Diprotes Pedagang Offline, Tapi Akui Belum Pede
-
Pelaku Usaha: Biaya-biaya di E-Commerce Mulai Tak Masuk Akal
-
Produk Lokal RI Siap Ekspor ke Pasar ASEAN Berkat Jualan Online via Live
-
Bahlil Sebut Implementasi B50 Punya Peluang Molor Lagi