Bisnis / Makro
Senin, 11 Mei 2026 | 18:25 WIB
Seller mengeluhkan biaya-biaya di e-commerce sudah tak masuk akal. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Baca 10 detik
  • Pelaku UMKM mengeluhkan beban biaya admin, logistik, dan iklan di e-commerce yang semakin menggerus margin keuntungan penjualan.
  • Kenaikan harga bahan baku plastik serta kebijakan retur barang yang merugikan menyebabkan operasional pedagang menjadi semakin sulit.
  • Pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual produk, namun langkah ini berisiko menurunkan daya saing terhadap brand besar.

Suara.com - Pelaku usaha mulai mengeluhkan, biaya-biaya di e-commerce yang mulai menggerus pendapatan. Beban biaya itu mulai dari biaya admin, ongkos logistik, hingga beban retur di berbagai platform e-commerce

Salah satu pelaku usaha home and living, Fitria Harmeliani, mengaku biaya layanan e-commerce kini kian memberatkan, terutama bagi reseller dan UMKM kecil yang margin produknya sudah tipis sejak awal.

"Biaya admin yang makin ga masuk akal, sedangkan margin kita udah tipis banget, buat UMKM kecil bener-bener kegerus," ujar Fitria kepada Suara.com, Senin (11/5/2026).

Seller mengeluhkan biaya-biaya di e-commerce sudah tak masuk akal. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Menurut dia, beban seller tidak berhenti pada komisi platform. Pedagang juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk iklan atau ads agar produk tetap muncul di bagian atas pencarian konsumen.

Selain itu, jika seller ingin meningkatkan penjualan lewat affiliate, mereka masih harus menambah komisi di luar potongan platform.

"Barang belum kejual aja kita udah mengeluarkan banyak biaya," ucapnya.

Fitria yang menjual produk seperti tempat bumbu dan tempat sendok mengatakan tekanan juga datang dari kenaikan harga bahan baku plastik yang ikut mendongkrak modal usaha.

Ia menyebut kondisi ini membuat banyak pabrik mengurangi bahkan menghentikan produksi sementara karena biaya dinilai tak lagi menutup operasional.

"Plastik makin naik, harga modal produk jadinya naik. Banyak pabrik yang akhirnya berhenti produksi dulu karena ga nutup, jadinya banyak barang yang OOS," jelasnya.

Baca Juga: Seller Alihkan Penjualan ke Website, Era Belanja di E-Commerce Berakhir?

Tak hanya biaya admin dan bahan baku, Fitria juga menyoroti kebijakan retur barang di marketplace yang dinilai kerap merugikan seller.

Menurut dia, ada banyak kasus pembeli mengajukan pengembalian dengan alasan barang harus dikembalikan seperti semula, meski produk sebenarnya sudah dikirim sesuai pesanan.

"Kadang seller nanggung ongkir pengembalian barang itu padahal kita udah kirim produk sesuai yang dibeli," katanya.

Kondisi tersebut, kata Fitria, membuat banyak pedagang kecil berada dalam posisi sulit karena salah satu pilihan realistis hanyalah menaikkan harga jual.

Meski begitu, keputusan itu juga berisiko menurunkan penjualan karena pedagang kecil harus bersaing dengan importir atau brand besar yang memiliki modal lebih kuat dan tidak selalu menaikkan harga.

"Satu-satunya cara emang naikin harga, tapi penjualan bisa drop karena ada importir dan brand yang kadang modalnya gede. Jadi nggak naikin harga," pungkas dia.

Load More