Suara.com - Jochen Zeitz dari Harley-Davidson berencana untuk pensiun sebagai CEO pada tahun 2025. Hal ini mengakhiri masa jabatan lima tahun yang ditandai dengan upaya untuk menghidupkan kembali pembuat sepeda motor Amerika yang berjuang dengan permintaan yang anjlok.
Zeitz, yang telah membantu menghidupkan kembali bisnis merek sepatu Jerman Puma yang hampir bangkrut, bergabung dengan dewan Harley pada tahun 2007 dan diangkat sebagai CEO pada bulan Mei 2020. Pria berusia 62 tahun, meluncurkan strategi "Hardwire" pada tahun 2021 untuk mengubah pembuat sepeda motor terkenal yang ingin terhubung dengan pengendara muda sebagai basis pelanggan utamanya yang berusia baby boomer.
Strategi lima tahun tersebut melibatkan prioritas produk dengan margin tinggi, keluar dari pasar internasional dengan volume penjualan rendah, dan memodernisasi daya tarik merek.
"Jochen telah melakukan pekerjaan yang baik dalam mengecilkan jejak global Harley dan memfokuskan kembali perusahaan pada sepeda Touring intinya dan Cruiser besar," kata analis Raymond James, Joe Altobello dilansir New York Post, Kamis (10/4/2025).
“Sayangnya, industri ini menghadapi tantangan dari beberapa faktor, termasuk suku bunga yang lebih tinggi; pada saat yang sama, konsumen tampaknya lebih menyukai sepeda motor yang lebih kecil dan lebih terjangkau, yang bukan merupakan kekuatan Harley," tambahnya.
Sementara itu, dikabarkan dia mendapatkan uang pensiunan yang cukup besar. Adapun total kompensasi sebesar 11,95 juta dollar AS atau sekiar Rp 199 miliar. Sedangkan, estimasi kekayaan bersih Jochen Zeitz setidaknya 12 Juta dolar dollar AS atau sekitar Jochen Zeitz adalah Presiden dan CEO Harley-Davidson Inc dan memiliki sekitar 508.870 saham Harley-Davidson Inc (HOG) senilai lebih dari 12 Juta dollar AS.
Sementara itu, Harley pada bulan Februari memperkirakan laba tahun 2025 dan pendapatan sepeda motor akan stagnan hingga turun 5% karena konsumen mengurangi pembelian barang mahal. “Kurangnya permintaan pasar akhir tampaknya akan terus berlanjut di masa mendatang dan telah merusak rencana pemulihan dan mengguncang kepercayaan dealer & investor,” kata analis riset Longbow David MacGregor.
Ia mengatakan prospek kemajuan yang berarti tampaknya semakin jauh dari jangkauan Harley karena terjebak dalam baku tembak perang dagang global yang sedang berkembang. Saham Harley turun sekitar 1% menjadi $22,90 dalam perdagangan tengah hari di tengah pemulihan di pasar yang lebih luas.
Harga saham naik lebih dari 11% hingga penutupan hari Senin sejak Zeitz mengambil alih, dibandingkan dengan kenaikan 77% dalam indeks acuan S&P. Sebagai informasi, Harley-Davidson adalah produsen sepeda motor premium yang mendesain, merakit, dan memasarkan sepeda motor serta suku cadang dan aksesori sepeda motor. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1903 oleh William S. Harley dan Arthur Davidson, dan berkantor pusat di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.
Baca Juga: Cara Cerdas Menjalankan Bisnis Sambil Mengurus Anak: Tak Ada yang Harus Dikorbankan!
Harley-Davidson didirikan pada tahun 1903 dan telah menjadi merek ikonik dalam dunia sepeda motor. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar yang signifikan di AS dalam industri pembuatan sepeda motor. Pada tahun-tahun pertama, Harley Davidson mampu menciptakan 3 sepeda, diantaranya sepeda engkol dan pedal serta motor dengan satu silinder.
Kemudian berbagai perkembangan dan inovasi terus berlangsung, hingga pada 1909 mampu menghasilkan 1000 sepeda motor per tahun. Saat itu mereka juga menunjukkan eksitensinya melaui pabrik sendiri yang memiliki pekerja kurang lebih mencapai 35 orang. Nama Motor Harley Davidson kemudian semakin dikenal di pasar Amerika Serikat, terutama di masa Perang Dunia I. Militer AS saat itu berani memasok motor Harley sebagai unit yang dibutuhkan selama perang terjadi.
Pada 1930 logo sayap terbang khas Harley Davidson lahir. Logo tersebut mulai digunakan di bagian tangki motor dan terus digunakan hingga saat ini.
Berita Terkait
-
Mau Cari Inspirasi Bisnis Kuliner? Pameran Makanan dan HoReCa Bakal Hadir Akhir 2026
-
Strategi Agresif Motul Indonesia Perkuat Jaringan Distributor Demi Kuasai Pasar Pelumas 2026
-
Togi Sitindaon Ungkap Mandat Penjualan Obligasi dan MTN di Sidang Perdata
-
Jamkrindo Syariah Beberkan Strategi Bisnis di 2026
-
Saat Bisnis Bertumbuh, Sistem Kerja Terpadu Jadi Kunci Daya Saing
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Apa itu Whip Pink? Tabung Whipped Cream yang Disebut 'Laughing Gas' Jika Disalahgunakan
Pilihan
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
Terkini
-
Bulog Klaim Margin 7% Bukan Tambah Cuan, Tapi Kompensasi
-
Kemenkeu Terbitkan SBN Pertama 2026, Incar Dana Rp 25 Triliun
-
Boy Thohir Mau Cari Cuan di Bursa Hong Kong Lewat Rencana IPO EMAS
-
Merger Grab - GoTo Tersandung Saham Telkomsel, KPPU Belum Terima Notifikasi
-
Cara Menukarkan Uang Rusak Akibat Bencana ke Bank Indonesia
-
Bareskrim: Dana Syariah Indonesia Putar Duit di Proyek Fiktif
-
Lowongan Kerja BCA Terbaru 2026 untuk Berbagai Jurusan S1 dan S2
-
OJK: Tak Semua WNI di Kamboja Korban TPPO, Sebagian Adalah Kriminal
-
Tak Kunjung Penuhi Kewajiban Reklamasi, 45 Perusahaan Tambang Terancam Dicabut Izin
-
ANTM Mengamuk! Saham Aneka Tambang Tembus Rekor Baru di Rp4.750