Suara.com - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam pada Senin (21/4/2025) atau Selasa (22/4/2025 waktu Indonesia), dipicu oleh serangan verbal Presiden Donald Trump terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Serangan ini memicu kekhawatiran pasar mengenai independensi bank sentral AS, di tengah ketidakpastian yang terus membayangi pembicaraan perdagangan global antara AS dan China.
Indeks-indeks utama Wall Street mencatatkan penurunan signifikan pada penutupan perdagangan Senin. Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok sebesar 2,48%, mengakhiri sesi di bawah tekanan jual yang kuat. Indeks S&P 500 juga mengalami penurunan substansial sebesar 2,36%. Sementara itu, indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite terpangkas lebih dalam, merosot sebesar 2,55%.
Tekanan jual ini terutama dirasakan pada saham-saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai ‘Magnificent Seven’. Saham produsen mobil listrik Tesla mencatat penurunan paling signifikan, yakni sebesar 5,8%. Raksasa Nvidia juga terpukul, turun lebih dari 4%.
Tidak ketinggalan, saham-saham e-commerce Amazon dan media sosial Meta juga melemah masing-masing sebesar 3%. Di sektor industri, saham Caterpillar, yang sering dianggap sebagai barometer ekonomi global, turut mengalami penurunan sebesar 2,8%.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Presiden Trump secara terbuka menyerang Ketua The Fed Jerome Powell, menyebutnya sebagai ‘Mr. Too Late, seorang pecundang besar’. Trump mendesak The Fed untuk segera mengambil tindakan tegas dengan memangkas suku bunga acuan.
Bahkan, Trump sempat mengisyaratkan kemungkinan untuk memberhentikan Powell dari jabatannya, sebuah langkah yang menurut penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, sedang dalam pertimbangan. Komentar-komentar pedas dari Presiden Trump ini semakin menekan nilai tukar dolar AS, yang terperosok ke level terendah dalam tiga tahun terakhir terhadap mata uang utama lainnya.
Di tengah gejolak pasar saham dan melemahnya dolar AS, aset safe haven seperti emas justru mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Harga emas melonjak tajam hingga menembus level rekor baru di atas US$ 3.400 per ons, mengindikasikan bahwa para investor semakin mencari perlindungan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Ketegangan perdagangan antara AS dan China juga semakin memanas setelah Beijing mengeluarkan peringatan kepada negara-negara lain untuk tidak membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat yang merugikan kepentingan Tiongkok. Peringatan ini semakin memperdalam jurang perpecahan antara dua ekonomi terbesar di dunia dan menambah bahan bakar pada perang tarif yang sedang berlangsung.
Secara sektoral, seluruh 11 sektor utama yang tercatat dalam indeks S&P 500 berakhir di zona negatif pada perdagangan Senin. Sektor konsumen diskresioner dan sektor teknologi menjadi dua sektor yang mengalami kerugian persentase terbesar, mencerminkan sentimen negatif terhadap saham-saham pertumbuhan dan perusahaan-perusahaan dengan sensitivitas tinggi terhadap kondisi ekonomi.
Baca Juga: IHSG Betah Berada di Zona Hijau Hingga Akhir Perdagangan Kamis
Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal pertama perusahaan-perusahaan AS memasuki fase yang lebih sibuk pada pekan ini, dengan puluhan perusahaan besar yang diawasi ketat oleh investor dijadwalkan untuk merilis laporan kinerja mereka.
Data yang dihimpun oleh LSEG menunjukkan bahwa, dari 59 perusahaan yang telah melaporkan sejauh ini, sebanyak 68% berhasil melampaui ekspektasi analis Wall Street. Meskipun demikian, sentimen pasar secara keseluruhan tetap tertekan akibat kekhawatiran terhadap kebijakan moneter dan ketegangan perdagangan.
Sementara itu, bursa saham Asia Pasifik menunjukkan kinerja yang bervariasi pada perdagangan Senin (21/4/2025). Di China, indeks CSI 300 naik sebesar 0,33% dan indeks Shanghai Composite menguat sebesar 0,45% setelah bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman utama (Loan Prime Rate/LPR) tenor 1 tahun di level 3,1% dan suku bunga LPR tenor 5 tahun di level 3,6%. Keputusan ini diambil di tengah tekanan terhadap mata uang yuan akibat ketegangan perdagangan dengan AS.
Di Jepang, sentimen negatif dari Wall Street turut menyeret kinerja bursa saham, dengan indeks Nikkei 225 turun sebesar 1,30% dan indeks Topix melemah sebesar 1,18%. Sementara itu, pasar saham Korea Selatan menunjukkan kinerja yang beragam, dengan indeks Kospi naik tipis sebesar 0,28%, sedangkan indeks Kosdaq yang berfokus pada saham-saham teknologi justru turun sebesar 0,32%. Bursa saham Australia dan Hong Kong dilaporkan masih tutup dalam rangka perayaan Paskah.
Dari perspektif teknikal pasar saham Indonesia (IHSG), pada perdagangan kemarin ditutup dengan kenaikan tipis sebesar 0,12%, namun disertai dengan arus keluar modal asing (net sell) yang cukup signifikan, mencapai sekitar 519 miliar Rupiah. Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing adalah saham-saham blue-chip seperti BBCA, BBRI, BBNI, TLKM, dan emiten batu bara ITMG.
Analis dari BNI Sekuritas, dalam kajian paginya memperkirakan bahwa IHSG hari ini berpotensi mengalami koreksi dan mendekati level support di kisaran 6400, sejalan dengan sentimen global terkait tekanan Presiden Trump terhadap The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang dapat mengganggu independensi bank sentral AS. Level support IHSG diperkirakan berada di rentang 6300-6400, sementara level resistance atau batas atas pergerakan diperkirakan berada di rentang 6480-6520.
Berita Terkait
-
IHSG Berakhir Naik Lagi, Meski Perang Dagang Terus Memanas
-
Dendy Kurniawan Dikukuhkan Kembali Jadi Direktur Utama Pelita Air oleh Pemegang Saham
-
Edukasi Trading, Vier Abdul Jamal dan Dupoin Futures Indonesia Road Show Training Super Cluster
-
Ekonomi Bukan Cuma Soal Dapur: Menggugat Narasi Populis Elitis
-
IHSG Dibuka Masih Nyaman di Zona Hijau Pada Senin Pagi
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK
-
Bahlil Tegaskan Tarif Listrik Tak Naik pada Mei
-
OJK: DSI Masih Nunggak Bayar Dana Nasabah Rp 2,4 Triliun
-
Ditopang Margin Kilang Minyak, Laba Barito Pacific (BRPT) Naik 803 Persen di Kuartal I-2026
-
Bahlil Ungkap Keuntungan Pengembangan CNG Pengganti LPG
-
Buruh Tembakau Minta Moratorium Cukai 3 Tahun, Wanti-wanti PHK Massal
-
28 Nama Calon Bos BEI Sudah di Meja OJK, Rekam Jejak Jadi Sorotan
-
Airlangga Klaim MBG Ikut Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI Q1 2026