Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pemerintah masih memantau perkembangan ekonomi global. Apalagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen untuk negara anggota BRICS.
Menurut dia, dengan kebijakan itu justru manambah ketidakpastian ekonomi global, karena kebijakan selalu dinamis.
"Ini menggambarkan bahwa dalam suasana seperti ini, kita akan terus dihadapkan pada suasana yang sangat dinamis," ujar Sri Mulyani setelah Rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR pada yang dikutip, (8/7/2025).
Namun demikian, Sri Mulyani bilang, Indonesia saat ini dalam posisi menunggu kelanjutan dari kebijakan tersebut. Apalagi proses negosiasi dengan pemerintahan AS masih terus berlanjut hingga saat ini.
Untuk diketahui, dalam proses negosiasi itu, Indonesia merelakan dana USD 34 miliar atau sekitar Rp 550 triliun (kurs Rp 16.200 per dolar AS) untuk mengimpor bahan dari AS.
"Kami akan terus mengikuti karena Indonesia kan masih di dalam proses pembicaraan dengan pemerintah Amerika," kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.
Sebagai informasi, BRICS saat ini merepresentasikan 50 persen populasi dunia dan mencakup 35 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global. Negara-negara anggotanya meliputi Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Etiopia, Iran, dan Indonesia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang dianggap berpihak pada kebijakan anti-Amerika dari kelompok BRICS.
"Setiap negara yang berpihak pada kebijakan anti-Amerika BRICS, akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10 persen," ujar Trump.
Baca Juga: Sri Mulyani: Situasi Global Tidak Makin Membaik!
Ia menambahkan bahwa pada hari Senin, pemerintah AS akan mulai mengirimkan surat kepada mitra dagangnya yang merinci tarif khusus untuk masing-masing negara serta perjanjian dagang yang akan diterapkan.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto memandang keanggotaan Indonesia dalam BRICS sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.
"Presiden Prabowo optimistis dengan keikutsertaan Indonesia dalam BRICS akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global, serta menekankan pentingnya kerja sama antarnegara melalui forum seperti BRICS untuk mendukung stabilitas dan kemakmuran dunia,” ujar Juru Bicara Presiden, Teddy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Selat Hormuz Dibuka, Bahlil Sebut Indonesia Tetap Lanjutkan Kontrak Impor Minyak
-
Bahlil Ungkap Kontrak Batu Bara PLN Kurang 20 Juta Ton, Listrik Bisa Terganggu?
-
Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Salurkan Pembiayaan Rp340 Miliar untuk 867 Debitur
-
Biaya Kuliah Meroket, Mahasiswa Minta Dana Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG
-
BRI Hadirkan Cara Baru Menabung Emas Otomatis Saat Transfer di BRImo
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel
-
Indonesia Bidik Turis Tajir, Seaplane Resmi Beroperasi dari Banyuwangi
-
Program Kompor Listrik Masih Digeber Mas Bahlil di 2027, Anggarannya Rp 815 M
-
Tembus Rp1,4 Triiun, Gaji ke-13 untuk TNI-Polri Telah Cair
-
Obral Pamer Danantara, Global Bond Laris Manis