Suara.com - Pemerintah diminta untuk melakukan moratorium kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai. Pasalnya, dampak kenaikan cukai rokok itu membuat industri hasil tembakau terpukul.
Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Surabaya, Sulami Bahar, menyatakan bahwa dampak dari kebijakan cukai selama ini telah membuat banyak pabrik rokok di Jawa Timur yang merupakan basis utama IHT terancam gulung tikar.
Beban biaya produksi yang kian tinggi tidak lagi sebanding dengan daya beli masyarakat yang melemah.
"Pabrik yang dulu menyerap ribuan tenaga kerja kini banyak yang hanya bisa bertahan dengan ratusan atau bahkan puluhan pekerja. Beberapa perusahaan terpaksa menutup usahanya," ujarnya seperti dikutip, Selasa (15/7/2025).
Ia berharap Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang baru dapat membuka ruang dialog dengan pelaku usaha, utamanya mereka yang selama ini menjadi tulang punggung industri tembakau nasional.
"Pabrik-pabrik di industri tembakau adalah tempat bergantungnya jutaan pekerja, petani tembakau, dan pedagang kecil. Kami ingin kebijakan yang adil, terukur, dan berpihak kepada keberlangsungan usaha rakyat," imbuhnya.
Mengenai wacana moratorium, Sulami secara terbuka mendukung penuh usulan tersebut. Ia menilai masa jeda cukai akan menjadi waktu yang krusial bagi pemerintah dan pelaku industri menyusun strategi jangka panjang yang lebih berimbang.
"Saya sangat mendukung adanya moratorium tiga tahun untuk menghentikan sementara kenaikan CHT," katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), I Ketut Budhyman Mudara. Ia menilai isu kenaikan CHT yang terus bergulir menambah tekanan terhadap pelaku usaha kecil, terutama petani dan pekerja tembakau.
Baca Juga: Ribuan Nyawa di Nigeria dan Kenya Selamat Karena Vape, Indonesia Kapan?
"Mereka beroperasi dalam tekanan tinggi, menghadapi penurunan produksi, penurunan penjualan, dan makin beratnya daya beli konsumen. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi menyangkut keberlangsungan mata pencaharian jutaan orang," jelasnya.
Budhyman memandang moratorium CHT sebagai langkah realistis yang akan memberi napas bagi sektor IHT untuk memperkuat daya tahan dan beradaptasi dengan dinamika pasar, sambil memberi ruang bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan fiskal yang lebih proporsional.
"Moratorium ini bukan berarti menolak kontribusi kepada negara, tapi memberi waktu agar industri bisa beradaptasi, menata ulang daya tahan, dan memastikan keberlanjutan tenaga kerja," bebernya.
Budyman juga menekankan pentingnya pelibatan seluruh pemangku kepentingan dalam proses penyusunan kebijakan, terutama mereka yang berada di garis depan industri tembakau.
"Sudah saatnya suara akar rumput didengar, bukan hanya kepentingan fiskal jangka pendek," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Avatar Aang Resmi Tayang Terbatas di Bioskop demi Lolos Kualifikasi Oscar
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?
-
ASDP Percepat Digitalisasi 6 Pelabuhan Strategis, Face Recognition hingga One Gate System
-
Air PAM Macet Berbulan-bulan, Warga Pegadungan Rogoh Kocek Dua Kali demi Air Bersih
-
Mengapa Kita Begitu Bergantung pada Terigu yang Tidak Bisa Kita Tanam?
-
PFII Jangan Sampai Jadikan Bali Surga Para Penghindar Pajak
-
Bukan Jay Idzes, Rekannya di Sassuolo Resmi Direkrut Leeds United
-
Lewat Kerja Sama LoI Dengan KDEI, BRI Taipei Dorong Literasi Keuangan Pekerja Migran
-
Sinergi Dalam LoI, BRI Taipei dan KDEI Tingkatkan Akses Keuangan Pekerja Migran Indonesia
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship