- Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia dilaporkan turun dalam dua kuartal berturut-turut dibandingkan tahun sebelumnya.
- Realisasi PMA tercatat hanya Rp212 triliun, turun 8,9% dari periode yang sama tahun lalu.
- Menteri Investasi Rosan Roeslani menuding tingginya tensi geopolitik dan perang dagang global sebagai biang keladinya.
Suara.com - Indonesia menghadapi tantangan serius di sektor investasi asing. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia dilaporkan turun dalam dua kuartal berturut-turut dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada kuartal III-2025, realisasi PMA tercatat hanya Rp212 triliun, turun 8,9% dari periode yang sama tahun lalu.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengakui adanya penurunan tahunan (year-on-year) ini. Ia menuding tingginya tensi geopolitik dan perang dagang global sebagai biang keladinya.
"Kita ketahui memang tantangan global kan masih ada. Kemarin-kemarin kalau kita lihat, ini kan laporan triwulan III dari bulan Juli, Agustus, September. Di dalam tiga bulan ini kan kita lihat tensi dari potensi trade war, potensi dari perang juga masih ada," kata Rosan dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2025).
Meskipun investasi asing sedang lesu, Rosan optimistis karena investasi domestik atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menunjukkan kinerja yang luar biasa.
PMDN pada kuartal III-2025 melonjak hingga Rp279,4 triliun, naik signifikan sebesar 40,53% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja PMDN yang dominan ini membuat total realisasi investasi di Kuartal III mencapai Rp491,4 triliun, dengan kontribusi PMDN sebesar 56,9%.
"Pertumbuhan ini cepat karena mereka ada confidence juga, kalau nggak ada confidence kan nggak mungkin mereka melakukan investasi yang di dalam negeri," ujar Rosan.
Rosan juga menyoroti bahwa secara absolut, PMA sebenarnya tetap tumbuh secara kuartalan (quarter-to-quarter), dari Rp202,2 triliun di kuartal II menjadi Rp212 triliun di kuartal III. Namun, pemerintah menyadari kunci masuknya investasi asing adalah kestabilan, rule of law, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga: Penerapan Izin Investasi "Fiktif Positif" Terkendala Sistem di Daerah, Rosan: PR-nya Tidak Mudah!
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Menunggu 22 Tahun Hingga Hamil di Usia 45: Kisah Nyata Perjuangan Bayi Tabung yang Menginspirasi
-
Euforia Piala Dunia 2026 Tak Cukup Selamatkan Ekonomi Meksiko: Stadion Penuh, Pemasukan Lesu
-
KPK Tolak Laporan Menhut Raja Juli Kembalikan Amplop Bupati Kuansing
-
Jejak Brutal MYF: Pembacok Samurai di Lumajang yang Ternyata Predator Pemerkosa Driver Ojol
-
Detik-detik Kakek Saniman Terhantam CBR Saat Putar Balik di Watudakon Jombang
-
Jika Argentina Juara, Benarkah Dinasti Baru Sepak Bola Dunia Resmi Dimulai?
-
Deschamps Akui Prancis dan Inggris Sama-sama Ogah Main, tapi Tetap Serius Bidik Tempat Ketiga
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra