- Herry Gunawan dari NEXT Indonesia Center menolak mentah-mentah klaim bahwa Whoosh adalah sebuah "investasi sosial" yang diutarakan Jokowi.
- Ia justru menilai proyek ambisius ini berpotensi menjadi "investasi beban" yang akan menyeret salah satu BUMN paling sehat, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, ke dalam kesulitan.
- Menurut Herry Gunawan, indikator nyata dari investasi sosial adalah dampak positif yang dirasakan masyarakat secara umum, terutama kelas rentan miskin.
Suara.com - Di tengah isu beban utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), muncul kritik tajam dari kalangan ekonom.
Herry Gunawan dari NEXT Indonesia Center menolak mentah-mentah klaim bahwa Whoosh adalah sebuah "investasi sosial" yang diutarakan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Ia justru menilai proyek ambisius ini berpotensi menjadi "investasi beban" yang akan menyeret salah satu BUMN paling sehat, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, ke dalam kesulitan.
Menurut Herry Gunawan, indikator nyata dari investasi sosial adalah dampak positif yang dirasakan masyarakat secara umum, terutama kelas rentan miskin.
"Dengan harga tiket Rp250 ribu sekali jalan, jelas penerima manfaatnya adalah kelas menengah ke atas. Dengan demikian, tidak berdampak terhadap masyarakat secara umum, apalagi kepada kelas rentan miskin dan miskin," tegas Herry Gunawan kepada Suara.com, Rabu (29/10/2025).
Herry juga menyoroti aspek perubahan perilaku. Ia berpendapat bahwa tujuan perubahan perilaku sudah terakomodasi oleh transportasi massal lain seperti kereta Jakarta-Bandung yang harganya jauh lebih terjangkau.
"Jadi yang ditawarkan Whoosh hanya investasi gaya hidup. Apalagi rutenya tidak sampai Bandung, melainkan Padalarang," kritiknya.
Saat ini, Whoosh justru disebut merugikan BUMN yang tergabung dalam konsorsium Proyek Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Herry bahkan menyebut Whoosh lebih tepat disebut sebagai "investasi beban yang beranak-pinak."
Kekhawatiran terbesar Herry tertuju pada PT KAI, yang merupakan pemimpin konsorsium PSBI. Ia menilai KAI, yang saat ini berada dalam kondisi sangat sehat dan dicintai publik berkat transformasi layanannya, berisiko menjadi korban pertama.
Baca Juga: Kontroversi Utang Whoosh: Projo Dorong Lanjut ke Surabaya, Ungkit Ekonomi Jawa 3 Kali Lipat
Jika KAI dipaksa menanggung beban finansial Whoosh, kemampuan perusahaan untuk berinvestasi dalam pembaruan layanan kereta api umum akan melemah.
"Kelak, di saat sudah tak mampu menanggung beban Whoosh... akan membuat kemampuan KAI untuk investasi layanan kereta api menjadi lemah. Di saat kondisi itu terjadi, masyarakat umum akan terdampak efek negatif... Misalnya, rangkaian kereta yang semakin tua dan tak lagi dapat diperbarui gara-gara dana KAI tersedot untuk menyokong Whoosh," pungkas Herry,
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
-
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
Terkini
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
Jembatan Energi Jawa Hampir Tersambung: Proyek Cisem II Rampung Maret 2026
-
Nuklir Jadi Prioritas Pemerintah, Bahlil Lahadalia Pimpin Dewan Energi Nasional
-
Industri Baja Tambah Investasi, Kemenperin Dorong Penguatan Kapasitas Produksi Nasional
-
Bahlil Jadi Ketua Harian Dewan Energi Nasional, Ini Struktur DEN Terbaru
-
Digitalisasi Jadi Syarat Mutlak Industri Kesehatan di Asia Tenggara
-
Dari Wamenkeu ke BI, Ini Bocoran Tugas dan Peran Thomas Djiwandono
-
Kronologi Thomas Djiwandono Masuk BI: Dari Bendahara Gerindra, Wamenkeu, hingga Deputi Gubernur
-
Beda dengan IHSG, Rupiah Justru Berjaya
-
Disentil MSCI, Saham Konglomerat Langsung Melarat