-
Bank Mandiri (Buyback Rp1,17 T) sinyal kuat valuasi BMRI murah & keyakinan fundamental.
-
Analis: Buyback tepat karena harga saham undervalued; prospek BMRI cerah didukung proyek Pemerintah.
-
Aksi ini akan tingkatkan EPS dan jaga kepercayaan investor terhadap kekuatan model bisnis Bank Mandiri.
Suara.com - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengirimkan sinyal kuat kepada pasar modal melalui kebijakan pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp1,17 triliun.
Langkah strategis ini dipandang analis bukan hanya sebagai respons terhadap fluktuasi pasar, melainkan sebagai deklarasi tegas dari manajemen bahwa valuasi saham perseroan saat ini sudah terlalu murah dan fundamental perusahaan sangat kokoh.
Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Universitas Indonesia (LMUI) Toto Pranoto menilai, aksi buyback BMRI merupakan keputusan strategis yang tepat di tengah kondisi pasar saham yang cenderung fluktuatif.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan manajemen melihat potensi undervaluasi saham dan berupaya memperkuat nilai pemegang saham. “Kebijakan buyback BMRI cukup baik. Hal itu mengindikasikan bahwa manajemen melihat harga saham sudah terlalu murah dan perlu langkah buyback. Bagi investor, ini bisa dipandang sebagai langkah bagus karena ada harapan peningkatan EPS (earnings per share) ke depan,” ujarnya dikutip Senin (24/11/2025).
Toto menambahkan, prospek Bank Mandiri juga didukung oleh perbaikan indikator keuangan dan dorongan program pembangunan pemerintah, mulai dari proyek infrastruktur, hilirisasi mineral, hingga pengembangan energi terbarukan. “Prospek ke depan BMRI cukup baik, apalagi juga sudah di-inject Rp200 triliun oleh Kementerian Keuangan. Tinggal bagaimana proses analisis proyek dilakukan lebih tajam agar NPL bisa ditekan,” lanjutnya.
Manajemen Bank Mandiri sebelumnya mengumumkan pelaksanaan program buyback senilai Rp1,17 triliun yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Maret 2025. Dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan dan digunakan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang saham BMRI.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan buyback tersebut menjadi bentuk nyata keyakinan manajemen terhadap kekuatan model bisnis perseroan. “Buyback tersebut menjadi sinyal kepercayaan manajemen perseroan terhadap kekuatan model bisnis dan nilai jangka panjang Bank Mandiri,” ujarnya.
Selain memperkuat nilai pemegang saham, saham hasil buyback juga disiapkan untuk mendukung program kepemilikan saham pegawai (Employee Stock Ownership Program/ESOP), sebagai wujud konsistensi manajemen dalam menjaga tata kelola yang berkelanjutan.
Dari sisi kinerja, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan pendapatan nonbunga (fee-based income) yang terus menguat, dengan kontribusi terhadap total pendapatan mencapai 32%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor digital banking dan treasury, yang masing-masing tumbuh 11% dan 10% secara bulanan (MoM). “Kami terus memperkuat fundamental keuangan yang berkelanjutan melalui diversifikasi sumber pendapatan, penguatan digital banking, serta efisiensi biaya yang terukur,” kata Novita.
Baca Juga: Daftar Saham Masuk MSCI Pekan Ini, KLBF dan ICBP Terpaksa Turun Kasta
Hingga September 2025, penyaluran kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp1.764 triliun dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.884 triliun, keduanya tumbuh di atas rata-rata industri. Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di level rendah 1,03%, jauh lebih baik dari rata-rata industri.
Menurut Novita, pencapaian tersebut mencerminkan kemampuan Bank Mandiri menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian. “Kami melihat momentum pertumbuhan tersebut sebagai bukti solidnya fundamental dan strategi yang kami jalankan. Ke depan, kami akan terus memperkuat peran Bank Mandiri dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sejalan dengan semangat Sinergi Majukan Negeri,” ujarnya.
Di tengah prospek ekonomi domestik yang masih ekspansif dan fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur serta hilirisasi industri, Bank Mandiri dinilai akan tetap menjadi salah satu emiten perbankan dengan prospek pertumbuhan paling menarik di 2026 mendatang. “Buyback tersebut tidak hanya menegaskan kepercayaan manajemen terhadap fundamental BMRI, tetapi juga memberikan keyakinan kepada investor bahwa potensi kinerja bank masih sangat besar,” tutur Toto.
Dengan fundamental yang kokoh, likuiditas tinggi, dan strategi ekspansi yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional, BMRI diyakini akan tetap menjadi magnet utama bagi investor domestik maupun asing dalam sektor perbankan Tanah Air.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali, Ini Penjelasan ESDM soal Nasib 2 Kapal Pertamina
-
Anak Usaha Emiten ADHI Mulai Garap Proyek Gedung Presisi 6 Polri
-
Kawal Agenda Ekonomi Kerakyatan, Kang Hero Dianugerahi KWP Award 2026
-
Konsistensi Kawal Energi Hijau Lewat MPR, Eddy Soeparno Raih KWP Award 2026
-
Tok! Pemerintah Resmi Pajaki Alat Berat Lewat Permendagri 11/2026
-
Harga Minyak Perlahan Turun, Bahlil Tegaskan B50 Tetap Jalan: Ini Survival Mode
-
Harga Bahan Baku Naik Gila-gilaan, Industri Tekstil: Kami Enggak Bisa Survive!
-
Bahlil Klaim RI Mulai Lepas Ketergantungan Impor BBM
-
Emiten DRMA Tebar Dividen Rp 70/Saham
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak 33,47 Dolar AS per Barel