- CIMB Niaga mencatat laba setelah pajak Rp6,93 triliun dan aset konsolidasian Rp372,7 triliun sepanjang tahun 2025.
- Kinerja tahun 2025 menunjukkan NPL bruto 1,81% dan CAR 24,8%, mencerminkan fundamental bisnis yang solid.
- Pertumbuhan kredit total mencapai 4,5% didorong oleh segmen Perbankan Korporat, didukung CASA naik 10,1%.
Suara.com - PT Bank CIMB Niaga Tbk mengumumkan laporan keuangan konsolidasian audited tahun buku 2025, dengan perolehan laba sebelum pajak sebesar Rp8,8 triliun. Sedangkan laba setelah pajak mencatat Rp6,93 triliun sepanjang 2025.
Adapun, kinerja tersebut menghasilkan earnings per share (EPS) Rp273,53 dan turut mendorong pertumbuhan bisnis perseroan secara berkelanjutan.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan konsistensi performa serta kesehatan fundamental bisnis Bank sepanjang 2025.
“Sepanjang tahun tersebut, kami berhasil memperkuat posisi likuiditas dan permodalan, yang semakin memperkuat landasan kami untuk terus bertumbuh sekaligus memastikan pemberian nilai jangka panjang,” ujar Lani dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Ia menambahkan, kerangka manajemen risiko Bank tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) sebesar 1,81 persen dan cost of credit (CoC) yang menurun menjadi 0,74 persen.
Adapun return on equity (ROE) tercatat sebesar 13,0 persen, menunjukkan kapasitas Bank dalam menghasilkan profitabilitas yang stabil dengan tetap menjaga profil keuangan yang disiplin dan solid.
Memasuki 2026, CIMB Niaga akan berfokus pada pertumbuhan kredit yang prudent, menjaga kualitas aset, memperkuat basis dana murah (current account saving account/CASA), serta menjalankan pengelolaan biaya secara disiplin.
Dengan strategi Forward30 sebagai panduan, perseroan optimistis dapat mempertahankan kinerja positif dan memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.
“Komitmen ini juga mencerminkan purpose kami, ‘Advancing Customers and Society’, di mana CIMB Niaga berkomitmen membantu nasabah serta masyarakat Indonesia mewujudkan mimpi dan aspirasinya,” tambah Lani.
Baca Juga: Tumbuh Double Digit Sepanjang 2025, BRI Bukukan Laba Rp57,13 Triliun
Dari sisi permodalan dan likuiditas, CIMB Niaga mencatat capital adequacy ratio (CAR) sebesar 24,8 persen dan loan to deposit ratio (LDR) 86,8 persen, mencerminkan posisi keuangan yang solid.
Total aset konsolidasian mencapai Rp372,7 triliun per 31 Desember 2025, memperkuat posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 3,8 persen secara tahunan (year-on-year/Y-o-Y) menjadi Rp270,5 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan CASA sebesar 10,1 persen Y-o-Y menjadi Rp189,5 triliun, sehingga rasio CASA mencapai 70,0 persen.
Peningkatan ini merupakan hasil penguatan hubungan dengan nasabah serta optimalisasi layanan digital guna meningkatkan pengalaman nasabah.
Di sisi intermediasi, total kredit dan pembiayaan tumbuh 4,5 persen Y-o-Y menjadi Rp238,3 triliun.
Pertumbuhan tertinggi berasal dari segmen Perbankan Korporat yang naik 6,7 persen Y-o-Y, diikuti Perbankan Konsumer sebesar 3,4 persen Y-o-Y dan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebesar 2,0 persen Y-o-Y.
Kenaikan kredit ritel terutama dikontribusikan oleh pertumbuhan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) sebesar 10,1 persdn Y-o-Y.
Sementara itu, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga (CIMB Niaga Syariah) mempertahankan posisinya sebagai salah satu unit usaha syariah terbesar di Indonesia.
Per 31 Desember 2025, total pembiayaan syariah mencapai Rp55,7 triliun dengan DPK sebesar Rp50,3 triliun.
CIMB Niaga Syariah juga terus memperkuat struktur pendanaan melalui optimalisasi pendanaan yang efisien, pengembangan jaringan berbasis komunitas, serta kemitraan strategis berbasis prinsip syariah.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ekosistem keuangan syariah nasional.
Berita Terkait
-
Cimb Niaga Catat Laba Rp 6,7 Triliun, Perusahaan Bakal Hati-hati Kelola Aset
-
Emiten Pengelola Limbah Ini Raup Pendapatan Rp148 Miliar di Kuartal III 2025
-
Emiten Kongsian Aguan-Salim Catat Marketing Sales Rp1,98 T di Kuartal III 2025
-
Saham BBRI Dekati Level 4.000 Usai Rilis Laba Bersih Rp41,23 Triliun
-
Kredit BJBR Naik 3,5 Persen, Laba Tembus Rp1,37 Triliun
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
OJK Restui Empat BPR di Priangan Timur Digabungkan, Apa Untungnya?
-
RI Boncos! Ini Alasan AS Tetapkan Tarif 104 Persen Produk Panel Surya Indonesia
-
Optimalkan Jualan Online, UMKM Kue Kering Alami Lonjakan Pesanan hingga 100% Jelang Lebaran
-
Harga Emas 27 Februari 2026 di Pegadaian Stabil, Saatnya Beli?
-
Dividen TLKM Bakal Lebih Besar dari Tahun Lalu, Kapan Cair?
-
Joseph Oetomo: Sosok di Balik PT Toba Pulp Lestari, Berapa Porsi Sahamnya?
-
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Finansial, Nanovest Ajak Investor Susun Portofolio Sehat
-
S&P Peringatkan Indonesia soal Tekanan Fiskal, Ada Risiko Penurunan Rating
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus