- Kementan mengunggah dokumen bantuan pangan untuk korban bencana Sumatra senilai Rp75 miliar.
- Tapi dokumen itu buat netizen janggal, karena harga beras dibandrol Rp60 ribu per Kg.
- Dalam dokumen itu Kementan memberikan 13 jenis barang bantuan mulai dari beras, minyak goreng, susu, telur, obat-obatan, air mineral hingga kebutuhan harian lainnya.
Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menghadapi sorotan publik setelah rincian bantuan pangan senilai Rp75,5 miliar untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beredar luas di media sosial.
Dokumen tersebut sebelumnya dipublikasikan melalui akun resmi Threads @kementerianpertanian pada 4 Desember 2025.
Dalam dokumen itu Kementan memberikan 13 jenis barang bantuan mulai dari beras, minyak goreng, susu, telur, obat-obatan, air mineral hingga kebutuhan harian lainnya. Namun publik menemukan kejanggalan pada salah satu komponen, yakni harga beras.
Dalam dokumen itu, poin nomor 2 mencantumkan beras satuan kilogram dengan volume 21.874 dan nilai Rp1.312.450.000. Perhitungan tersebut dianggap tidak masuk akal karena menunjukkan harga sekitar Rp60.000 per kilogram, atau sekitar Rp900.000 untuk 15 kilogram.
Tampilan foto dokumen itu pun viral di media sosial dan menyebabkan banyak pertanyaan di ruang publik. Salah satunya yang di posting ulang akun instagram @ngertisaham pada hari ini Senin (8/12/2025).
Seperti yang ditulis akun @ariefsiragilagustus_89 yang menulis : Beras apa harganya segitu?
Begitu juga dengan akun bernama @azisbin0214 yang menulis : Harga ini nggak masuk akal, jauh di atas HET beras premium manapun di Indonesia. Di tengah kesulitan bencana, mengapa dana rakyat digunakan dengan harga mark-up setinggi ini? Ini bukan lagi inefisiensi, ini dugaan kuat penyalahgunaan anggaran bantuan bencana. Siapa yang bertanggung jawab? nggak etis.
Ada juga yang menulis komentar bernada sarkas seperti akun @restipdh : Mungkin berasnya itu zuper premium, sekali makan gak bakal laper2 lagi dan bakal kenyang terus, makanya harganya segitu.
Unggahan tersebut memicu diskusi luas, termasuk desakan agar Kementan meninjau ulang data anggaran bantuan yang telah dipublikasikan. Kritik menguat karena publik menilai kementerian seharusnya memastikan akurasi harga, terlebih pembelian dalam jumlah besar biasanya mendapat harga lebih rendah. Warganet menilai kekeliruan publikasi data semacam ini dapat menimbulkan spekulasi negatif di tengah situasi bencana.
Baca Juga: Gubsu Bobby Nasution Bilang Kerugian Akibat Banjir-Longsor di Sumut Rp 9,98 Triliun
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
BTN Tak Bagikan Dividen, Laba Bersih Ditahan untuk Perkuat Modal
-
Babah Alun Rayakan Kemenangan Gugatan CMNP Terhadap Hary Tanoe dan MNC
-
Berkat Bantuan BI Rupiah Akhirnya Bangkit, Ditutup ke Level Rp 17.228
-
Pemerintah Tangguhkan Ekspor Minyak Mentah, Fokus Kebutuhan Dalam Negeri
-
BRI Consumer Expo 2026 Tawarkan Bunga KPR 1,75% dan Hiburan Meriah
-
Potret Horor Ketimpangan Ekonomi: Harta 50 Triliuner RI Bertambah Rp13,48 Miliar Setiap hari
-
Hari Bumi 2026, Telkom Pertegas Langkah Strategis Menuju Masa Depan Berkelanjutan
-
Kisah Nasabah PNM Mekaar, Ibu Anastasia: Membangun Salon Inklusif dan Gratis untuk ODGJ
-
Sambut Idul Adha, Berkurban Makin Praktis dan Nyaman lewat BRImo, Berikut Langkah-langkahnya
-
Pasang Surut Rupiah Sejak 1998, Kurs Dolar Kembali Mendekati Level Krisis Moneter?